Pesan Untuk Anak-Anak, Terutama Anak Laki-Laki

Posted On // Leave a Comment

Apa bila Ibu Ayah kita meninggal, turunlah dalam liang kubur dan sambutlah mayat beliau, buka papan penutup keranda (tempat usungan mayat), angkat mayat Ibu Ayah kita.


Biarkan kita yang memutarkan mayat Ibu Ayah kita menghadap ke kiblat. Kita yang melakukan!!! Bukan hanya menyaksikan saja orang lain yang melakukan.


Allahu Robbi… ” Ibu.. Terakhir kali ini aku melihat Ibu”. Biarkan kita yang merelai ikatan di kepala dan di tubuh beliau.. Pegang perlahan-lahan badan Ibu kita, arahkan beliau dengan baik-baik, ambil gumpalan tanah dan letakanlah di belakang tengkok Ibu kita.


“Ibu, terakhir kali inilah aku melihat engkau”. Terlintas dalam hati kita sambil memegang Ibu kita… Ingat sejak kita bayi, tangan Ibu kita ini yang mensuapi makanan ke mulut kita.


Ingat hari pertama kita bisa berjalan, muntah, berak, beliau lah orang yang tidak pernah sedikit pun untuk menolak. Sebagaimana pun jahatnya anak terhadap beliau, kita tetap anak beliau dan selalu terima sebagai anak beliau.


Naiklah ke atas dan duduklah di tepi makam beliau serta dengarkanlah “Talqin” yang di sampaikan teruntuk Ibu kita.


Hari terakhir ini lihatlah, tidak ada benda apapun yang bisa kita berikan untuk bekal beliau kecuali hanya Doa:


“Ya Allah.. Aku angkat tanganku Ya Allah.. Aku ridho Kau ambil Ibu ku Ya Allah..

Dia yang melahirkan aku.. Ya Allah hari ini aku tinggal dia Ya Allah, aku serahkan dia atas urusan Mu belaka Ya Allah. Aku tadahkan tanganku Ya Allah.. Aku memohon dengan sangat-sangat Kau ampunkan dosa-dosa Ibu ku, tolong Ya Allah.. Kasihani Ibu ku Ya Allah.. Aku adalah hasil didikan dari dia. Ya Allah sayangi dia Ya Allah.


Maka akan beruntunglah Ibu kita, apakah Allah akan menolak doa itu? Allah tak akan menolak doa ikhlas yang datang dari seorang anak.


Pesan ini bagi sahabat-sahat yang selagi Ibu Ayah masih hidup. Dan Bagi sahabat-sahabat yang Ibu Ayah telah tiada, mari kita bersama-sama sedekahkan Al-Fatihah buat mereka.


Terima Kasih. [www.dakwahmedia.net]






from Dakwah Media http://ift.tt/1O1O8sU

via IFTTT
[Read more]

Dosa Khamr

Posted On // Leave a Comment

Oleh : Ustadz Felix Siauw (Pendakwah, Penulis)


1. dalam pandangan Islam, khamr (miras), adalah bagian daripada dosa | dan tidak hanya dosa biasa, tapi bagian dari dosa besar


2. Allah berfirman | Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar..” (QS 2:219)


3. tidak hanya dosa besar, bahkan khamr adalah induk segala dosa | dosa besar yang paling besar, karena memancing dosa lainnya


4. “khamar adalah induk kejahatan dan paling besarnya dosa-dosa besar..” (HR Thabrani) | naudzubillah, keras sekali peringatan Rasulullah


5. mengapa? karena khamr menghilangkan akal, dan bila akal sudah hilang | tak ada bedanya manusia dengan hewan, sama tak berpikir


6. maka wajar bila dalam keadaan mabuk, hilang akal, banyak kriminal terjadi | karena pelakunya sudah tidak lagi menyadari, tidak berakal


7. bagi yang beriman, cukup larangan Allah dan Rasul, mereka dengar dan taat | tapi kaum bebal susah, walau faktanya miras sangat merusak


8. padahal secara logika dan realitas pun, khamr ini sangat mengerikan | hanya saja kekuatan pemilik modal memang bisa membeli apapun


9. khamr itu berhubungan dengan kriminal, semakin tinggi konsumsi khamr | maka makin tinggi pula tingkat kriminalitas


10. selain kriminal, juga memperburuk kesehatan | minum alkohol, sebetulnya tindakan merusak tubuh


11. wajar mereka selalu bersama ALCOHOL, SEX, CRIME | memang tiga sekawan ini tak terpisahkan


12. lha, secara historis, empiris, dan normatif jelas mengerikan, merugikan, dan dosa besar | sangat aneh bila ada yang ingin melegalkan


13. karena didesak pengusaha miras, ingin dilegalkan sebagaimana eropa? | dan serampangan menafikkan semua fakta dan data statistik?


14. apalagi beralasan bahwa melarang miras jangan dikaitkan agama | hal begini biasa dilakukan oleh yang tak beragama


15. apalagi beralasan ini Indonesia berdasar NKRI dan UUD, bukan negara agama | padahal mayoritas Indonesia adalah Muslim?


16. bagi seorang Muslim, saat dia bersyahadat, semua urusan agama | mulai dari hal paling kecil, apalagi hal yang besar


17. tapi, beginilah bila para pemimpin tidak mengetahui Islam | pola pikirnya pun bukan halal-haram, tapi manfaat, itupun kapitalistik


18. dalam sistem kapitalis, asalkan menghasilkan uang | miras yang merusak pun akan diusahakan dilegalkan


19. dan harusnya ini jadi pelajaran bagi kita, benarnya nasihat Allah dan Rasul-Nya | ambillah pemimpin yang mengerti agama, yang beriman


20. ambillah pemimpin yang amanah, yang takut pada Allah | karenanya, ia menerapkan pula aturan Allah, yang paling memahami manusia


21. solusi ummat itu “pemimpin yang amanah” yang menerapkan “sistem yang amanah” | kembali pada Al-Qur’an dan As-Sunnah secara menyeluruh. [www.dakwahmedia.net]






from Dakwah Media http://ift.tt/1cCRdyB

via IFTTT
[Read more]

Tata Cara Jima’ atau Bersenggama Menurut Islam

Posted On // Leave a Comment

Islam adalah agama yang mulia dan memuliakan. Ia menjunjung tinggi akhlak dan etika. Setiap perbuatan baik di dalam Islam, pastilah ada tuntunan adabnya. Demikian pula dengan jima’.


Adab di dalam jima’ bukan hanya membuat hubungan suami istri lebih intim, tetapi juga menjadikan kenikmatan dunia itu sebagai ladang pahala. Menjalankan adab-adab jima’ bukan hanya membawa kebahagiaan bagi suami dan istri, tetapi juga mendatangkan keberkahan bagi keluarga dan keturunan yang ditakdirkan Allah lahir dari proses tersebut.


Berikut ini 10 tatacara jima’ / Bersenggama suami istri Berdasarkan Islam:



1. Bersih Diri dan berwudhu

Mengkondisikan tubuh bersih (dengan mandi dan gosok gigi) adalah bagian dari adab jima’ sekaligus membuat suami atau istri lebih tertarik. Sebaliknya, tubuh yang tidak bersih cenderung mengganggu dan menurunkan daya tarik.


Abu Rafi’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari pernah menggilir istri-istri beliau, beliau mandi tiap kali selesai berhubungan bersama ini dan ini. Aku bertanya, “Ya Rasulullah, bukankah lebih baik engkau cukup sekali mandi saja?” Beliau menjawab, “Seperti ini lebih suci dan lebih baik serta lebih bersih.” (HR. Abu Daud dan Ahmad)


2. Memakai parfum/wewangian

Wewangian adalah salah satu sunnah Nabi. Beliau bersabda: “Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah” (HR. Tirmidzi).


Bagi istri, memakai parfum/wewangian yang dianjurkan adalah saat-saat seperti ini, bukan pada waktu keluar rumah yang justru dilarang Rasulullah.


“Perempuan manapun yang menggunakan parfum kemudian melewati suatu kaum agar mereka mencium wanginya maka dia seorang pezina” (HR Ahmad)


Yang perlu diperhatikan di sini ialah, aroma atau jenis wewangian yang dipakai hendaknya yang disukai suami atau istri. Sebab, ada suami atau istri yang tidak menyukai aroma wewangian tertentu. Wewangian yang tepat membuat hasrat suami atau istri semakin meningkat.


3. Shalat dua raka’at

Adab ini terutama bagi pengantin baru. Sebagaimana atsar Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang menasehati pengantin baru agar mengajak istrinya shalat dua raka’at terlebih dahulu ketika memulai malam pertama.


4. Berdandan dan berpakaian yang disukai suami atau istri

Adakalanya istri malu memakai pakaian minim yang disukai suaminya. Padahal dalam sebuah hadits disebutkan “Sebaik-baik istri kalian adalah yang pandai menjaga diri lagi pandai membangkitkan syahwat. Yakni keras menjaga kehormatan dirinya lagi pandai membangkitkan syahwat suaminya.” (HR. Ad Dailami).


Senada dengan hadits itu, Muhammad Al Baqir, cicit Husain bin Ali menjelaskan: “Sebaik-baik wanita diantara kalian adalah yang membuang perisai malu ketika menanggalkan pakaian di hadapan suaminya dan memasang perisai malu ketika ia berpakaian kembali.”


Hadits dan maqalah ini juga menjadi dalil bahwa di dalam jima’, suami istri boleh menanggalkan pakaian dan tidak haram melihat aurat masing-masing.


5. Jima’ di tempat tertutup

Islam mengatur kehidupan umat manusia agar kehormatan dan kemuliaannya terjaga. Demikian pula dengan jima’. Ia harus dilakukan di tempat tertutup, tidak diketahui oleh orang lain meskipun ia adalah anak atau keluarga sendiri. Karenanya saat anak berumur 10 tahun, Islam mensyariatkan untuk memisahkan kamar anak-anak. Kamar anak laki-laki terpisah dari kamar anak perempuan.


Bagaimana jika anak masih kecil dan tidurnya bersama orang tua? Pastikan ia tidak melihat aktifitas suami istri tersebut. Caranya bisa Anda berdua yang pindah kamar.


6. Berdoa sebelum jima’

Yakni membaca doa:


بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

Dengan Nama Allah, Ya Allah! Jauhkan kami dari syetan, dan jauhkan syetan agar tidak mengganggu apa (anak) yang Engkau rezekikan kepada kami” (HR. Bukhari dan Muslim)


7. Melakukan mubasharah, ar rasuul, foreplay, atau pemanasan

Hendaknya suami tidak langsung ke inti, tetapi ada mubasharah/ar rasuul/ foreplay terlebih dulu.


“Janganlah salah seorang di antara kalian menggauli istrinya seperti binatang. Hendaklah ia terlebih dahulu memberikan pendahuluan, yakni ciuman dan cumbu rayu,” (HR. Tirmidzi)


Ada tiga langkah foreplay atau pemanasan sebelum berjima’ yang bersumber dari hadits Nabi. Selengkapnya bisa dibaca


8. Membawa ke puncak, saling memberi hak

“Apabila salah seorang diantara kamu menjima’ istrinya, hendaklah ia menyempurnakan hajat istrinya. Jika ia mendahului istrinya, maka janganlah ia tergesa meninggalkannya.” (HR. Abu Ya’la)


9. Mencuci kemaluan dan berwudhu jika mau mengulangi

“Jika salah seorang di antara kalian mendatangi istrinya, lalu ia ingin mengulanginya, maka hendaklah ia berwudhu.” (HR. Muslim)


10. Mandi besar (janabat) setelah jima’


[Bersamadakwah/ www.dakwahmedia.net]






from Dakwah Media http://ift.tt/1yB6hqw

via IFTTT
[Read more]

Nauzubillah : Usai UN, Puluhan Siswa Siswi Di Kendal Pesta Sex di Hotel

Posted On // Leave a Comment

KENDAL – Puluhan pelajar tertangkap sedang asyik berbuat mesum di kamar hotel yang berada di tempat wisata di Pantai Muara Kencan Cepiring, Kendal, Jawa Tengah. Para pelajar ini mesum usai mengikuti ujian nasional (UN).


Sambil menutup wajahnya, para pelajar ini digiring ke luar kamar hotel oleh petugas Satpol PP. Para pelajar ini kemudian didata dan dilakukan pembinaan agar tak lagi mengulangi perbuatannya untuk melakukan maksiat.

Salah satu pelajar bernama Luluk mengaku sengaja menyewa kamar hotel usai UN. Selain itu, ada pula pelajar yang dengan malu-malu mengaku menyewa hotel untuk berbuat mesum dan melakukan hubungan layaknya suami isti dengan alasan untuk melepas ketegangan usai melaksanakan UN.


Kasat Pol PP Kendal, Toni Ari Wibowo, mengatakan, sepuluh pasangan itu telah didata kemudian diberi pembinaan. Pasangan mesum ini akan ditindak jika tertangkap lagi dan dikenakan tindak pidana ringan.






from Dakwah Media http://ift.tt/1zozf7O

via IFTTT
[Read more]

Peran Yang Mulia

Posted On // Leave a Comment

Di dalam hidup ini kita memiliki banyak sekali peran, seperti peran sebagai pekerja, ayah, ibu, pengurus organisasi dan lain-lain. Peran-peran ini harus ditunaikan amanahnya dengan melakukan berbagi macam aktivitas, misalkan bekerja. Sayangnya aktivitas bekerja ini tidak terasa begitu bermakna bagi banyak orang. Dia sekedar rutinitas harian tanpa makna. Mengapa terasa tidak bermakna? Karena aktivitas ini dijalankan berpusat pada kesenangan mendapatkan materi.


Bagaimana bila aktivitas ini kita geser sehingga berpusat pada prinsip Islam? Anda akan merasakan citarasa yang berbeda dalam menjalaninya. Lihatlah beberapa hadits berikut ini. Insya Allah ini akan mengubah persepsi Anda tentang mencari nafkah:


“Mencari nafkah yang halal adalah jihad.” (HR. Al-Qudha’i)


“Mencari nafkah yang halal hukumnya wajib.” (HR. Ath-Thabrani)


“Mencari nafkah yang halal hukumnya wajib atas setiap Muslim.” (HR. Ad-Dailami)


“Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya ketrampilan kedua tangannya pada siang hari maka pada malam itu ia diampuni oleh Allah.” (HR. Ahmad)


“Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada yang tidak bisa dihapus (ditebus) dengan pahala shalat, sedekah atau haji namun hanya dapat ditebus dengan kesusah-payahan dalam mencari nafkah.” (HR. Ath-Thabrani)


“Sesungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hambaNya bersusah payah (lelah) dalam mencari rezeki yang halal.” (HR. Ad-Dailami)


“Barangsiapa yang meninggal dunia dalam mencari nafkah yang halal, maka dia meninggal dunia dalam keadaan diampuni.” (HR. Ibnu ‘Asakir)


“Satu dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau infakkan untuk membebaskan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan untuk orang miskin, satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu; yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.”

(HR. Muslim)


Bagaimana sekarang? Sudah terasa istimewa peran sebagai seorang pemuda, suami atau ayah yang mencari nafkah untuk buah hati? Insya Allah. Selamat mencari nafkah yang halal dikarenakan Islam kita. [www.dakwahmedia.net]


Sumber: Fanspage Buku The Model






from Dakwah Media http://ift.tt/1G3gxKI

via IFTTT
[Read more]

Membiasakan Sholat Malam

Posted On // Leave a Comment

Ada yang berkata pada Ibnu Mas’ud, “Kami tidaklah sanggup mengerjakan shalat malam.” Beliau lantas menjawab, “Yang membuat kalian sulit karena dosa yang kalian perbuat.”



Lalu apakah kita termasuk orang yang sering melewati malam begitu saja tanpa terbangun untuk melaksanakan shalat malam? Bahkan tanpa merasa bersedih? Mungkin sudah saatnya kita mengevaluasi diri, dan mulai membiasakan diri untuk melaksanakan shalat malam, bahkan meskipun hanya berdiri melaksanakan 2 rakaat sesaat sebelum adzan Shubuh berkumandang.


‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhu berkata, “Satu raka’at shalat malam itu lebih baik dari sepuluh rakaat shalat di siang hari.”


Lukman berkata pada anaknya, “Wahai anakku, jangan sampai suara ayam berkokok mengalahkan kalian. Suara ayam tersebut sebenarnya ingin menyeru kalian untuk bangun di waktu sahur, namun sayangnya kalian lebih senang terlelap tidur.” (Al Jaami’ li Ahkamil quran)”


Salah seorang ulama terdahulu bangun di malam yang sangat dingin, saat meletakkan tangannya di bejana air, beliau merasakan sakit dinginnya air itu, beliau ingin kembali ke atas tempat tidur dan tidak wudhu, namun beliau paksakan mencelupkan tangannya ke dalam air seraya berkata: “sungguh ini lebih ringan daripada panasnya api jahanam”


Apakah ini terjadi begitu saja? Tidak, semuanya membutuhkan proses dan perjuangan.


Tsabit Al Banani berkata, “Saya merasakan kesulitan untuk shalat malam selama 20 tahun dan saya akhirnya menikmatinya 20 tahun setelah itu. Jadi total beliau membiasakan shalat malam selama 40 tahun. Ini berarti shalat malam itu butuh usaha, kerja keras dan kesabaran agar seseorang terbiasa mengerjakannya.


Sesungguhnya kita selalu dalam keadaan berperang melawan setan dan hawa nafsu sendiri. Cara sederhana mulai membiasakan shalat malam:


1. Memaksakan bangun lebih awal, sebelum adzan Shubuh


Sudah pasti akan terasa sulit jika kita begadang semalaman. Maka hentikan dulu kebiasaan begadang.


Sebagian mengatakan: “Dulu bangun malam amat sulit untukku, aku berjuang sekuat tenaga sehingga aku bisa menikmati lezatnya selama dua puluh tahun.


2. Laksanakan shalat malam dan lanjutkan hingga Shubuh tiba


Al-Hasan berkata: Bersungguh-sungguhlah (untuk beribadah) pada waktu malam dan perpanjanglah shalat kalian sehingga waktu menjelang pagi, kemudian duduklah untuk berdo’a, merendahkan diri (di hadapan Allah) dan beristigfar.


3. Biasakan langsung berwudhu setelah bangun, rasakan kesegaran setelah air menyentuh wajah


“Setan mengikat pada ujung kepala salah seorang diantara kalian jika tidur dengan tiga ikatan. Masing-masing ikatan mengatakan:


“Engkau masih memiliki malam yang panjang, maka tidurlah!’ Jika ia bangun lantas menyebut nama Allah, maka terlepaslah satu ikatan. Jika ia berwudlu, maka lepaslah ikatan berikutnya. Dan jika ia mengerjakaan sholat, maka terlepaslah satu ikatan lagi, sehingga keesokan harinya ia menjadi giat, demikian juga jiwanya akaan menjadi baik. Jika tidak demikian, maka keesokan harinya ia menjadi kotor jiwanya lagi pemalas.” (HR. Muslim 1163). [www.dakwahmedia.net]


Sumber: rumahzakat







from Dakwah Media http://ift.tt/1CV4V52

via IFTTT
[Read more]

KECEWA KARENA BENAR

Posted On // Leave a Comment

Oleh : Abay Abu Hamzah (Penulis Buku Melawan Dengan Cinta)


Mungkin kita pernah mengalami ini, saat di mana kita mengajukan sebuah gagasan atau konsep, yang menurut kita sangat baik buat dakwah, bahkan jika konsep itu tidak dijalankan, bisa men,gakibatkan kemudharatan buat dakwah,



Anggaplah kita berada di sebuah forum rapat koordinasi dakwah, entah itu dakwah kampus, dakwah di masyarakat, maupun di segmen dakwah lainnya. Kita memiliki sebuah konsep yang sangat terencana, konsep yang lahir sebagai solusi atas berbagai permasalahan dakwah yang sedang dihadapi.


Di rapat tersebut, kita mengajukan gagasan dengan penuh percaya diri. Namun dengan berbagai alasan, pemimpin rapat menolak gagasan kita. Entah karena dirasa terlalu sulit dijalankan, entah karena keluar dari pakem yang sudah biasa dijalankan, atau alasan apapun. Intinya satu, gagasan brilian kita ditolak.


Saat itu, adalah wajar jika kita merasa kecewa. Sebab, pemimpin kita lebih memilih konsep lain yang kurang brilian dan meninggalkan konsep kita yang insyaallah sangat tepat untuk mengatasi permasalahan dakwah. Sekali lagi, adalah wajar jika kita merasa kecewa.


Menariknya, di kemudian hari, analisa kita ternyata benar, Solusi-solusi yang kita tawarkan ternyata memang tepat, dan solusi yang dipilih pemimpin kita ternyata merugikan dakwah.


Saat itulah, kekecewaan kita berlipat, dihiasi dengan perasaan yang entah apa namanya, yang jelas kita ingin sekali mengatakan,


“Dulu sudah saya bilang jangan begitu, saya sudah menyarankan agar begini, tapi tidak diambil.”


atau kalimat yang lebih pendek tapi lebih sombong daripada itu,


“Tuh kan, saya bilang juga apa,”


Kecewa adalah wajar. Tapi mengucapkan kalimat itu, adalah sesuatu yang berbahaya. Mengapa berbahaya? Mari sejenak kita menekuri lembaran sirah Nabawiyah, tepat di fragmen perang Uhud yang menyejarah itu.


Saat itu, Rasulullah mengumpulkan para shahabatnya dalam sebuah musyawarah. Beliau shallallahu ‘alayhi wasallam memulainya dengan menceritakan mimpi beliau malam sebelumnya,


“Aku bermimpi memasukkan tanganku ke dalam baju besi.” ucap beliau.

Kemudian beliau melanjutkan dengan takwil atas mimpi tersebut. Bahwa sebaiknya, kaum Muslimin berperang di dalam kota saja.


Namun, para shahabat muda merasa kurang berkenan dengan saran Nabi, mereka ingin menyongsong musuh di luar kota Madinah, bukan dengan bersikap ‘pengecut’ menunggu mereka di dalam kota. Terlebih lagi, di antara mereka terdapat orang-orang yang ingin ‘menebus’ kesalahannya karena tidak ikut serta dalam perang Badar. Sehingga semangat mereka begitu menggelora untuk menyongsong musuh di luar kota Madinah.


Hanya segelintir orang yang menyetujui saran Nabi. Dan segelintir orang yang mendukung Nabi itu, tidak semuanya memiliki alasan yang sama. Shahabat yang shalih tentu saja menyetujui saran Nabi karena betul-betul mencintai beliau, dan tidak ingin sedikitpun menyelisihi kehendak beliau. Namun, ada pula satu orang yang (justeru) paling kencang menyatakan dukungannya pada Nabi, tetapi bukan karena ia tidak ingin menyelisihi Nabi, melainkan karena saran Nabi itu cocok dengan keinginannya.


Kebetulan sekali, jiwa pengecutnya merasa cocok dengan keinginan Nabi untuk berperang di dalam kota. Dengan berperang di dalam kota, ia bisa kembali ke rumah dan menemui isterinya jika ia lelah, bahkan ia bisa menghilang dari perang tanpa ketahuan.


Maka ia berkeras mendukung Nabi, dengan berbagai argumen yang indah didengar. Argumen yang kemungkinan besar tidak berasal dari hati nurani. Melainkan karena (kebetulan) ada kecocokan antara saran Nabi dengan jiwa pengecutnya.


Abdullah bin Ubay bin Salul, nama orang itu. Dia menampakkan amal sebagai seorang Muslim, namun sesungguhnya ia adalah gembong kemunafikan, yang berusaha menggerogoti Islam dari dalam.


Berbagai dalil ia ajukan untuk mendukung saran Nabi, Namun Nabi mengalah. Beliau memilih untuk mengikuti keinginan sebagian besar shahabatnya, berperang di luar kota.


Dan ternyata benar, pasukan Islam kalah besar dalam perang itu. Banyak penghapal al-Quran yang gugur karena kekalahan itu. Di situlah, Abdullah bin Ubay bin Salul merasa jumawa. Dengan sombong ia berkata, yang dalam bahasa kita mungkin seperti ini,


“Tuh, gua bilang juga apa? Kalah kan?”


Duh. Semoga kita terhindar dari sifat jumawa si biang kemunafikan itu. Berat memang, saat saran kita tidak didengar. Bahkan, lebih berat lagi jika di kemudian hari saran kita terbukti tepat. Di situlah, keikhlasan kita diuji.


Saya sering mengalaminya, sangat sering mengalaminya, dan kelihatannya masih harus sering mengalaminya. Mungkin Anda juga. Kecewa? Pasti. Tapi, semoga Allah menguatkan iman kita, menjaga keikhlasan kita, dan menghindarkan sifat ujub dalam setiap detik kita.


Sebab kita berada di barisan ini bukan untuk diakui, melainkan untuk memperjuangkan apa yang kita yakini, memperjuangkan apa yang diperintahkan oleh Ilahi, untuk memikul tanggung jawab yang bahkan tak sanggup ditopang oleh bumi. [www.dakwahmedia.net]







from Dakwah Media http://ift.tt/1Dmgjum

via IFTTT
[Read more]