BERBAHAGIALAH SAAT DIHINA

Posted On // Leave a Comment

Berlapang dadalah terhadap setiap caci maki, celaan, hinaan, umpatan, atau sorak sorai orang yang membenci kita. Lapang dada hanya bisa dilakukan oleh mereka yang luas jiwanya sebab memiliki wawasan nan mendalam.


Sikap lapang dada tidak terbentuk dalam sekali tempaan. Tetapi hasil kerja keras dalam waktu yang lama dengan usaha sungguh-sungguh yang tak mengenal kata menyerah.


Para pendahulu umat ini telah memberikan contoh sikap lapang dada yang teramat mencerahkan. Sikap tersebut dimiliki sebab pelakunya memahami betul tabiat dunia ini, para penghuninya dan kesudahan dari hidup yang sementara ini. Hal inilah yang membuat mereka tidak pernah pusing dengan hal-hal kecil, karena fokus mereka ada pada kehidupan abadi di akhirat kelak.


Suatu hari, Ibrahim an-Nakha’i yang pincang berjalan bersama sahabatnya. Sahabat yang digandengnya ini adalah sosok yang tak bisa melihat. Baru berjalan beberapa langkah, sang sahabat mulai khawatir. Karenanya, langkahnya melambat secara perlahan.


Tak berselang lama, akhirnya sang sahabat pun menyampaikan keluhannya, “Wahai Ibrahim,” katanya melanjutkan, “orang-orang yang melihat kita pasti akan mengatakan, ‘Itu orang buta dan orang pincang… Itu orang buta dan orang pincang,’” pungkasnya menyampaikan kekhawatirannya.


Demi mendengar apa yang diucapkan oleh sahabatnya itu, Ibrahim an-Nakha’i mengambil ancang-ancang untuk berhenti sejenak. Setelah berhenti, ia berkata kepada sahabatnya itu, “Wahai temanku,” ucapnya tenang. “Kenapa engkau begitu terbebani memikirkannya?” lanjutnya kemudian, “Jika mereka berdosa karena menghina kita,” jelasnya mengakhiri, “bukankah kita mendapatkan pahala atas hinaan mereka?”


Demikialah keadaan orang-orang shaleh. Diamnya adalah dzikir, bicaranya adalah emas. Hampir tak ada yang sia-sia dalam tiap jenaknya. Pun, dalam pemaklumannya terdapat hikmah yang amat besar.


Bisa jadi, keadaan fisik mereka memang tak sempurna. Ada di antara mereka yang dikaruniai kekurangan anggota tubuh ataupun cacat. Namun, mereka tak pernah sekalipun sibuk dengan hal itu. Karena mereka memahami, di balik penciptaan pasti ada hikmah. Mereka memahami bahwa Allah Ta’ala Maha Sempurna dalam tiap penciptaan-Nya.


Apa yang dikhawatirkan oleh sahabat Ibrahim an-Nakha’i ini, bisa jadi adalah kekhawatiran yang beralasan. Sebab tabiat manusia, memang lebih suka mengomentari dan melihat apa yang dialami oleh orang lain, ketimbang sibuk memperbaiki dirinya sendiri. [Pirman/kisahikmah/dakwahmedia.com]






from Dakwah Media http://ift.tt/1yJ9kGc

via IFTTT
[Read more]

Pemerintah Aceh Diminta Sikapi Serius Temuan Misi Pendangkalan Akidah

Posted On // Leave a Comment

Banyaknya temuan kasus yang diduga bagian dari misi pendangkalan akidah di Aceh, diharapkan oleh berbagai kalangan supaya disikapi serius oleh Pemerintah Aceh. Rentetan kasus yang ditemukan selama ini diyakini bagian dari target untuk menyebarkan paham dan keyakinan yang bertentangan dengan akidah masyarakat Aceh yang mayoritas Islam.


Ketua Pembina Front Pembela Islam (FPI) Aceh, Yusuf Al-Qardhawi secara blak-blakan menyebutkan Aceh menjadi target para misionaris untuk menyebarkan ajaran agama tertentu. Yusuf mengaku mendapatkan bocoran yang bisa dipertanggungjawabkan dari berbagai sumber, termasuk pengakuan rekannya yang melanjutkan pendidikan di Inggris.


Menurut Yusuf, ketika temannya berliburan ke Jerman, menemukan fakta adanya tempat ibadah nonmuslim yang menerima sumbangan dari pengikutnya untuk misi ke Aceh. “Kalau sebatas mereka mengumpulkan dana, itu urusan merekalah. Tetapi yang mengagetkan, ada yang terang-terangan menulis target penyebaran misi ke Aceh. Memang tertulis nama Aceh, Indonesia,” bkata Yusuf Al-Qardhawi, mengutip pengakuan temannya yang sempat pulang ke Aceh sebulan lalu.


“Bukan hanya saya yang mendengar cerita itu, tapi ada 10 teman saya yang lain,” lanjutnya, dilansir Serambi, Rabu (28/1/2015).


Misi pendangkalan akidah ke Aceh, menurut Yusuf, bukan cerita baru, tetapi sudah merebak sejak pascatsunami. Di Meulaboh, misalnya, sempat juga ditemukan berbagai buku dan VCD berisi kumpulan lagu-lagu keagamaan, dan brosur yang mengacu kepada pendangkalan akidah.


“Sudah banyak kejadian di Aceh yang merupakan misi pendangkalan akidah. Ini harus disikapi serius oleh pemerintah dan masyarakat agar tidak masuk perangkap mereka,” kata Yusuf Al-Qardhawi. [hidayatullah/dakwahmedia.com]






from Dakwah Media http://ift.tt/1A4GV43

via IFTTT
[Read more]

MUI : “Umat Butuh Media Yang Mampu Membela Islam”

Posted On // Leave a Comment

Umat Islam Indonesia membutuhkan media yang mampu membela Islam dan umat Islam, ungkap Ustadz Muhammad Yunus, Sekretaris MUI Jawa Timur, Rabu (28/01).


Pernyataan tersebut disampaikan Yunus saat memberikan sambutan dalam acara Simposium Media Islam Online. Bertempat di Surabaya yang diselenggarakan Bina Qalam Indonesia. Sebelummya Yunus juga mengapresiasi acara tersebut sebagai salah satu sarana untuk menghasilkan penulis dengan tulisan yang baik.


“Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, tetapi pemerintahnya tidak mengambil kebijakan berdasarkan inspirasi-inspirasi Islam, bahkan sering umat Islam termarjinalkan,” ujarnya. Maka dari itulah umat Islam memerlukan media yang dapat membela kepentingan umat, paparnya.


Selain itu dia juga menyampaikan, media Islam kedepannya harus mampu menjadi rujukan masyarakat Indonesia. Dan menjadi media yang berwibawa.


“Cuma kenyataannya media belum memenuhi harapan seperti itu,” bebernya.


Yunus melanjutkan, media Islam tidak dibaca kebanyakan kaum muslimin. Karena memang tidak dikenal.


“Banyak media islam yang kontennya membingungkan masyakarakat,” katanya.


“Sementara media yang anti syariat yang suka nyinyir, dapat menampilkan seolah-olah bahasa cara pemberitaan yang sejuk,” tambahnya


Dia mencontohkan kasus penembakan 12 orang di Paris. Berita tersebut lebih heboh dimasyarakat dibanding kasus penghinaan nabi.


Oleh karena itu menurut Yunus ada dua hal yang perlu dilakukan media Islam. Yaitu, penyeragaman pemikiran dan gerak langkah bersama. [muslimdaily/dakwahmedia.com]






from Dakwah Media http://ift.tt/1uDPr2F

via IFTTT
[Read more]

Senangkan Hati Istri, Ia Akan Menyenangkan Anda

Posted On // Leave a Comment

Menjadi istri salihah yang memiliki karakter “menyenangkan jika dipandang” akan mudah direalisasikan apabila ada peran nyata dari suami untuk mewujudkannya. Akan sangat berat dan sulit bagi istri untuk menjadi salihah dan menyenangkan suami apabila tidak ada back up yang memadai. Maka suami harus aktif dan proaktif membantu istri untuk mewujudkan karakter salihah dalam diri istri.


Ada banyak peran yang bisa dilakukan suami agar istrinya bisa tampil menyenangkan, di antaranya adalah (1) peran menyediakan sarana dan fasilitas yang diperlukan istri, dan (2) peran memberikan dukungan moril untuk istri. Pada postingan sebelumnya, saya telah menyampaikan peran yang pertama. Pada postingan kali ini, saya akan menyampaikan peran yang kedua, yaitu peran suami dalam memberikan dukungan moril untuk istri.


Peran Suami dalam Memberikan Dukungan Moril untuk Istri


Dukungan sarana dan fasilitas tentu sangat berarti dan mambahagiakan bagi istri. Namun ada dukungan lain yang lebih besar dan lebih bermakna, yaitu dukungan moril. Paling tidak, ada dua peran suami dalam memberikan dukungan moril bagi istri dalam mewujudkan karakter “menyenangkan jika dipandang”, yaitu:


1. Memberikan suasana yang selalu menyenangkan hati istri


Karakter “menyenangkan jika dipandang” tidak datang secara tiba-tiba. Pasti ada proses yang menyertainya. Istri menjadi menyenangkan jika dipandang, apabila memiliki suasana hati yang senang dan gembira. Hati yang lapang dan nyaman. Bukan hati yang ketakutan, atau hati yang tertindas oleh kekasaran sikap suami. Tidak layak suami hanya menuntut kepada istrinya agar menyenangkan, namun ia sendiri tidak memberikan suasana yang mendukung untuk itu.


Jika hati istri senang, semua pekerjaan akan dilakukan dengan ringan. Hati yang gembira akan terpancar pada penampilan yang bersinar cerah, wajah menjadi berbinar, dan jiwa menjadi bahagia. Istri akan murah senyum, senang melayani istri dan tidak mudah marah atau emosi. Suami harus memberikan suasana yang bisa menyenangkan hati istri, membahagiakan hati istri, sehingga istri akan selalu merasa bahagia bersama suami.


Jika istri merasa tertekan, merasa terancam, merasa tidak nyaman bersama suami, tentu akan mudah terbaca lewat penampilan dan raut wajahnya. Wajahnya akan cemberut, atau bahkan wajah yang ketakutan, sehingga sulit untuk tersenyum dan bernampilan cerah. Di sinilah pentingnya peran suami dalam memberikan suasana hati istri yang menyenangkan, sehingga semua aktivitas istri juga akan dilakukan dengan hati yang lapang, tenang, damai dan senang.


Istri yang menyenangkan jika dipandang, tidak bisa muncul dari perilaku ancaman, paksaan dan intimidasi.


“Kamu harus menyenangkan aku. Kalau tidak awas, aku akan menyiksa kamu”.


“Kamu harus menyenangkan aku. Kalau tidak, akau akan menceraikan kamu dan membuang kamu ke lautan”.


Ancaman, paksaan dan intimidasi, hanya akan membuat sakit hati. Tidak ada istri yang senang dengan ancaman dan paksaan. Istri akan senang apabila ada suasana yang mendukung dan nyaman yang diberikan oleh suami. Karena senang itu tidak bisa dipaksakan kehadirannya. Perasaan senang hanya akan muncul dari suasana jiwa yang kondusif.


Di antara suasana yang menyenangkan hati istri adalah sikap suami yang lembut dan hormat kepada istri. Suami tidak boleh menganggap istri sebagai budak, pelayan atau pembantu bayaran yang bisa diperlakukan dengan semena-mena. Walaupun suami adalah pemimpin dan istri wajib taat kepada suami, namun ketaatan istri bukanlah tanpa syarat. Karena ketaatan hanya bisa terjadi dalam hal-hal yang benar dan baik. Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan, kesalahan dan ketidakbaikan.


Demikian pula gaya komunikasi suami yang menyenangkan istri, ini akan menjadi faktor yang menyenangkan hati istri. Sikap romantis dan penuh cinta dari suami, pasti akan sangat membahagiakan istri. Pengertian dan bantuan dari suami, juga akan sangat menyenangkan hati istri. Itulah berbagai suasana yang bisa menyenangkan hati istri, sehingga istri juga akan tampil menyenangkan jika dipandang suami.


2. Memberikan contoh teladan


Hal yang lebih penting lagi adalah contoh teladan. Suami adalah pemimpin dalam kehidupan keluarga, maka ia harus memberikan contoh teladan dalam kebaikan. Suami tidak bisa serta merta menuntut istri untuk melakukan berbagai macam hal, jika ia tidak memberikan contoh teladan. Baik teladan dalam konteks spiritual maupun dalam tindakan praktis.


Misalnya dalam hal kebaikan secara umum. Semestinya suami memberikan contoh teladan dalam berbagai sisi kebaikan agar istri mengikuti kebaikan suami. Jika suami taat beribadah akan bisa memberi teladan bagi istri sehingga iapun taat beribadah. Jika suami setia, maka istri akan setia pula. Jika suami suka membantu istri, maka istripun akan suka membantu suami. Jika suami bertutur kata lembut, maka istri akan meneladani. Jika suami bersikap tenang, maka istri juga akan tenang.


Demikian pula dalam hal yang bercorak praktis. Jika suami menghendaki istri rajin berdandan, sudah sepatutnya suamipun berdandan untuk istri. Jika suami menghendaki istri selalu harum mewangi, semestinya ia memberikan contoh teladan rajin membersihkan diri sehingga harum dan wangi di hadapan istri. Jika suami menghendaki istri patut dalam penampilan, selayaknya suami memberi contoh kepatutan dalam penampilan. Demikian seterusnya.


Tidak adil jika suami menuntut istri cantik berdandan, sementara suami bernampilan acak-acakan. Suami tidak rapi dan tidak patut dalam bernampilan. Tidak adil jika suami menuntut istri selalu harum mewangi, sementara dirinya jarang mandi dan gosok gigi. Kadang kita saksikan suami yang bau keringat dan bau tubuhnya menyengat, namun menghendaki istri selalu harum dan wangi. Tentu saja ini kondisi yang tidak sebanding dan tidak seimbang.


Tidak bisa suami menggunakan prinsip, “Lakukan apa yang aku katakan dan jangan ikuti apa yang aku lakukan”. Maunya hanya memerintah istri, namun dirinya tidak memberikan contoh teladan. Tentu ini justru menjadi hal yang sangat menyakitkan hati istri. Jika suami sudah memberikan contoh teladan dalam kebaikan, akan menyebabkan istri menjadi bersemangat untuk memberikan kepatuhan kepada suami, memberikan pelayanan terbaik kepada suami, memberikan pengorbanan dengan tulus bagi suami. Jika istri merasa terdukung secara moril , ia akan bahagia dan nyaman bersama sang suami. Jika istri bahagia, maka akan menyenangkan jika dipandang.


Demikianlah dua dukungan moril dari suami yang akan sangat membantu istri dalam mewujudkan karakter menyenangkan jika dipandang. Hendaknya para suami dengan suka rela memberikan bantuan yang diperlukan istri agar bisa menjadi istri salihah. [islamedia/dakwahmedia.com]






from Dakwah Media http://ift.tt/1uDPr2B

via IFTTT
[Read more]

Tidur Teratur Membantu Anak Mendapatkan Kualitas Tidur

Posted On // Leave a Comment

KEBIASAAN tidur dan bangun secara teratur dalam rumah tangga, tidak hanya membantu anak-anak mendapatkan kualitas tidur yang baik, juga memungkinkan mereka mendapatkan durasi tidur yang sesuai dengan usia, kata penelitian yang dilakukan di Pennsylvania State University di Amerika Serikat.


Asupan kafein yang terbatas, waktu tidur teratur, dan mengurangi interaksi dengan gizmos teknologi (seperti gadget) di malam hari adalah semua aspek yang mengarah pada kualitas dan durasi tidur lebih baik, sebut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Sleep Health.


Tim peneliti meneliti kebiasaan tidur terhadap 1.103 orang tua atau wali dari anak-anak antara usia 6 dan 17 tahun di Amerika Serikat.


Partisipan — yang 54 persen adalah perempuan– diwawancarai melalui Internet. Mayoritas dari mereka memahami pentingnya tidur, namun sejumlah 90 persen dari anak-anak mereka tidak tidur, sebagaimana jam tidur dari kelompok yang direkomendasikan.


Para peneliti menentukan perkiraan konservatif bahwa anak-anak antara usia enam dan 11 harus tidur sembilan jam per malam dan orang-orang yang berusia antara 12 dan 17 harus mendapatkan setidaknya delapan jam memejamkan mata per malam.


Dalam banyak kasus ditemukan, terdapat gangguan teknologi di kamar tidur dan kurangnya perhatian terhadap konsumsi kafein pada anak.


“Kami sebelumnya telah menunjukkan efek negatif atas adanya cahaya dari teknologi (gadget) sebelum tidur, dan sekarang dalam penelitian ini kita melihat bagaimana orang tua yang mengatur penggunaan teknologi secara rutin dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas tidur anak-anak mereka,” kata pendamping penelitian, Anne-Marie Chang, asisten profesor kesehatan biobehavioral di Penn State.


Rekan Chang, Orfeu Buxton, menyebutkan, jadwal yang sibuk membuat anak-anak dan orang tua sulit mendapatkan (waktu) tidur yang cukup, namun keluarga tetap harus menjalankan ritme yang baik di dalam rumah tangga. [hidayatullah/dakwahmedia.com]






from Dakwah Media http://ift.tt/15WHKz9

via IFTTT
[Read more]

KETIKA HIJAB BUKAN SEKEDAR KEWAJIBAN APALAGI FASHION

Posted On // Leave a Comment

Oleh : Ustadz Hafidz Abdurrahman


Istilah “Hijab” telah mengalami metamorfosis. Dari konotasi tabir (penutup), bahkan purdah, istilah “Hijab” kini populer digunakan dengan konotasi pakaian Muslimah yang menutup aurat. Maka, ada istilah “Hijabers” untuk komunitas pemakai “Hijab”. Karena model dan bentuknya beragam, maka ada lagi istilah, “Hijab Syar’i”. Dengan konotasi pakaian Muslimah yang memenuhi kriteria syara’.


Bagi kaum hawa, seluruh tubuh wanita adalah aurat. Bahkan Nabi saw. menyatakan:


اَلْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتْ اِسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ [رواه الترميذي وصححه الألباني]


“Wanita itu aurat. Ketika dia keluar (dari rumahnya), maka syaitan pun mengagungkannya.” (Hr. At-Tirmidzi)


Nabi menyebutnya dengan “aurat”, karena wanita merupakan kehormatan (kemuliaan) yang harus dijaga. Jika ia dilepas keluar, maka ia akan digunakan syaitan sebagai perangkapnya untuk memerangkap lawan jenisnya. Pandangan mata dan syahwat tertuju kepadanya.


Begitu luar biasa Islam menempatkan kaum perempuan. Ia ditempatkan pada kedudukan yang terhormat, dan betul-betul dimuliakan. Sampai-sampai ketika seseorang terbunuh, karena membela kehormatannya pun dinyatakan syahid. Nabi bersabda:


مَنْ قُتِلَ دُوْنَ عَرَضِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ [رواه الترميذي]


“Siapa saja yang terbunuh, karena membela kehormatannya, maka dia mati syahid.” (Hr. At-Tirmidzi)


Karena itu, Islam pun menggariskan, bahwa kehormatan tersebut harus dijaga dan dilindungi, baik oleh pemilik kehormatan itu sendiri, keluarga, masyarakat maupun negara. Islam kemudian mewajibkan kaum perempuan menutup auratnya, dari ujung rambut hingga kakinya. Kecuali, wajah dan kedua telapak tangannya. Menutup dengan kain yang memang layak menjadi penutup, yang bisa menutupi kulitnya dari pandangan lawan jenisnya.


Maka, ketika Asma’ binti Abu Bakar masuk ke rumah Nabi saw. dengan pakaian tipis, baginda saw. membuang pandangannya, lalu menasihati Asma’, “Wahai Asma’, jika wanita itu sudah haid (dewasa), maka tidak boleh nampak darinya, kecuali ini dan ini (sambil menunjuk ke wajah dan telapak tangan Nabi).” (Hr. Abu Dawud) Sikap Nabi membuang pandangan membuktikan, bahwa menutup aurat bukan sekedar berpakaian, tetapi pakaian yang bisa menutupi warna kulit. Pakaian yang tidak tembus pandang. Jika tidak, maka meski berpakaian, tetapi aurat yang menjadi kehormatannya tetap saja bisa dilihat orang lain.


Islam tidak saja menjaga dan melindungi kehormatan wanita dengan mewajibkannya menutup seluruh auratnya, tetapi juga melarangnya untuk berpakain yang bisa menarik perhatian lawan jenis. Meski, seluruh auratnya sudah tertutup. Itulah yang dinyatakan Allah:


وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأُوْلَى [سورة الأحزاب: 33]


“Dan hendaknya perempuan-perempuan itu tidak melakukan tabarruj sebagaimana tabarruj yang dilakukan orang-orang Jahiliyah dahulu.” (Q.s. al-Ahzab: 33)


Iya, “Tabarruj” itu menampilkan dandanan yang bisa menarik perhatian lawan jenis. Di zaman Jahiliyah, kaum perempuan memakai gelang kaki, ketika mereka berjalan sambil menjejakkan kakinya ke tanah hingga terdengar suara gelang kakinya. Tujuannya untuk menarik kaum pria. Maka, kaum pria yang ada di sekitarnya pun telinga dan matanya tertuju kepadanya. Begitulah, dahulu orang-orang Jahiliyah melakukan “tabarruj”.


Karena itu, Islam tidak saja melarang tabarruj, tetapi juga mewajibkan kaum perempuan menutup seluruh auratnya. Tidak hanya sampai di situ, Islam kemudian menyempurnakan perlindungannya terhadap kaum perempuan dengan mewajibkannya berjilbab. “Jilbab” adalah jubah. Allah berfirman:


ياَ أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ المُؤْمِنِيْنَ يُدْنِيْنَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيْبِهِنَّ [سورة الأحزاب: 59]


“Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, serta perempuan kaum Mukmin, agar mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka.” (Q.s. al-Ahzab: 59)


Tidak hanya itu, Allah juga berfirman:


وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوْبِهِنَّ [سورة النور: 31]


“Hendaknya kaum perempuan itu mengulurkan kerudungnya hingga ke dada-dada mereka.” (Q.s. an-Nur: 31)


Jilbab, yang tak lain adalah jubah, untuk menutup tubuh wanita, dan himar, yang tak lain adalah kerudung untuk menutup bagian kepala wanita hingga dada, ditetapkan sebagai pakaian wajib kaum perempuan ketika berada di luar rumah. Semuanya itu untuk menjaga dan melindungi kehormatan kaum perempuan. Begitulah Islam menempatkan wanita, sebagai kehormatan yang wajib dilindungi dan dijaga, bahkan dengan taruhan nyawa.


Lihatlah, bagaimana sikap Nabi saw., saat seorang wanita Muslimah, yang ujung jubahnya diikat orang Yahudi Bani Qainuqa’ di pasar Madinah, hingga saat wanita itu meninggalkan lapak Yahudi itu, dia pun terjatuh, jubahnya tersingkap, dan auratnya terlihat. Dampak dari peristiwa ini, Nabi saw. pun murka. Yahudi Bani Qainuqa’ pun akhirnya diperangi dan diusir dari Madinah.


Lihatlah, bagaimana Khalifah al-Mu’tashim, saat memenuhi jeritan wanita yang memanggil namanya, “Wahmu’tashimah!” (Wahai al-Mu’tashim, di manakah Engkau!). Khalifah agung itu pun mengerahkan tentaranya untuk menuntut kehormatan seorang wanita naas yang jilbabnya telah ditarik tentara Romawi. Maka, 30,000 tentara Romawi tewas, dan lainnya menjadi sabaya (semacam tawanan). Benteng Amuriah yang angker itu pun berhasil ditaklukkan oleh Khalifah yang agung itu (Ibn Katsir, al-Bidayah, I/1601).


Begitulah Islam memandang kehormatan wanita. Apapun dipertaruhkan untuk menjaga dan melindunginya. Maka, ketika ada wanita yang mengumbar auratnya, dia tidak saja melawan perintah dan larangan Allah SWT, tetapi juga menjatuhkan martabat dan kehormatannya sendiri. Siapa saja yang melecehkannya, tidak saja melecehkan kehormatan wanita, tetapi telah melecehkan Dzat Sang Pentitah, Allah SWT.


Maka, berhijab bukan sekedar kewajiban, apalagi fashion. Tetapi lebih dari itu, ia merupakan kehormatan dan kemuliaan yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya. Begitulah cara Allah menjaga dan melindungi martabat dan kehormatan wanita.


Semoga Allah melindungi kita semua, anak-anak, isteri dan saudara Muslimah kita






from Dakwah Media http://ift.tt/15VJQPK

via IFTTT
[Read more]

Permendag Tentang Miras Tak Mampu Hentikan Peredaran Miras

Posted On // Leave a Comment

Terbitnya larangan menjual minuman beralkohol (mihol) di bawah 5 persen atau jenis bir oleh Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, sejumlah aktivis anti miras oplosan protes. Sebab, aturan pembatasan peredaran mihol di minimarket itu bukan menekan peredaran miras oplosan, tapi justru makin marak dijual di pasar gelap.


Aturan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 06/M-DAG/PER/1/2015 tentang pengendalian dan pengawasan terhadap pengadaan, peredaran, dan penjualan minuman beralkohol yang ditandatangani pada 16 Januari 2015 lalu.


Adalah Rudhy Wedhasmara, Koordinator East Java Action, sebuah lembaga non-profit yang bergerak di bidang anti narkotika. Rudhy mengaku menyayangkan terbitnya kebijakan peredaran mihol di bawah 5 persen di minimarket tersebut.


“Sebelum peraturan itu berlaku, saat ini saja, penjualan miras jenis oplosan melalui pasar gelap, terus meningkat. Peningkatan ini berbanding lurus terhadap jumlah korban tewas karena menenggak miras oplosan,” kata Rudhy, Rabu (28/1/2015). Seperti dilansir merdeka.


Pendiri rumah terapi korban miras oplosan di Surabaya, Jawa Timur ini juga memaparkan, sejak Tahun 2013 hingga saat ini, sudah ada 147 peraturan daerah (perda) baru berisi larangan dan membatasi penjualan mihol.


Namun, lanjut dia, perda-perda baru itu tidak bisa menekan angka kematian yang mencapai 18 ribu per tahunnya di Indonesia, akibat mengonsumsi miras oplosan.


“Beberapa daerah di Jawa Barat, seperti Cirebon misalnya. Sejak 2014 lalu, sudah menerapkan aturan penjualan mihol segala jenis di supermarket dan minimarket. Tapi nyatanya, di tahun 2013 hingga 2014, ada sekitar 107 korban tewas akibat oplosan.”


Terkait pembatasan peredaran mihol di bawah 5 persen dan hanya boleh menjual mihol golongan A saja di supermarket atau hipermarket berdasarkan Permendag Nomor 06/M-DAG/PER/1/2015 tersebut, pebisnis minimarket wajib menarik mihol jenis bir dari gerai miliknya paling lambat tiga bulan sejak aturan tersebut diterbitkan.


“Sebenarnya tidak hanya di Indonesia. Awal Tahun 1920, Pemerintah Amerika Serikat juga pernah memberlakukan amandemen 18, yang secara tegas melarang pembuatan, pengangkutan dan penjualan alkohol,” ungkap Rudhy mencontohkan aturan di Negeri Paman Sam, Amerika.


Kata Rudhy, aturan yang dimaksudkan menyelamatkan masyarakat dari dampak buruk alkohol oleh Pemerintah Amerika itu, justru sebaliknya, peredaran mihol illegal dan penyalahgunaannya makin meningkat serta menyebar, hingga akhirnya aturan itu dicabut.


“Salah satu solusi untuk menekan jumlah penyalahgunaan alkohol secara berlebihan dan juga peredaran oplosan yaitu dengan adanya edukasi alkohol seperti yang sudah diterapkan di beberapa sekolah yang ada di Inggris,” ungkapnya memberi solusi.


Senada, Koordinator Komunitas Anti Miras Oplosan, Indra Harsaputra juga mengatakan, maraknya peredaran miras oplosan secara ilegal telah banyak menelan korban jiwa, tidak hanya warga Indonesia, melainkan juga turis-turis mancanegara yang datang ke Indonesia.


Lanjut Indra, masih ingat kematian turis asal Australia, Liam Davies yang tewas setelah mengonsumsi arak oplosan ketika merayakan pesta Tahun Baru 2013 di Lombok?


“Atas peristiwa itu, Pemerintah Australia mengeluarkan travel warning bagi warganya yang berkunjung ke Bali dan Lombok,” katanya.


Di tahun yang sama, masih kata dia, seorang remaja asal Sydney menjadi buta setelah minum koktail dicampur metanol dalam sebuah perayaan di Bali. Juni 2012, Johan Lundin Backpacker asal Swedia, juga meninggal dunia karena kasus yang sama di Lombok.


“Kematian Lundin itu beberapa bulan setelah kematian pemain Rugby asal Perth, Michael Denton juga akibat keracunan metanol di Bali,” ucapnya. [muslimdaily/dakwahmedia.com]






from Dakwah Media http://ift.tt/15RDZu0

via IFTTT
[Read more]