Pebasket Muslim AS Gugat Pusat Kebugaran Karena Dilarang Salat

Posted On // Leave a Comment

Seorang mantan bintang basket Muslim Amerika, menggugat sebuah pusat kebugaran di pengadilan federal di Ohio, AS dengan alasan yang pelanggaran hak sipil. Hal ini karena pihak pengelola gym melarangnya menjalankan salat di ruang ganti. Bahkan, pengelola gymmengancam akan menendangnya keluar jika melakukannya lagi.


“Muhammad Fall melihat pemeluk lainnya melakukan ibadah atau aktivisan keagamaan di pusat kebugaran LA Fitness. Menurut pengakuannya, tak satu pun kegiatan tersebut dilarang dilakukan di LA Fitness. Namun, Fall yakin dia dikecualikan karena dia seorang Muslim,” demikian isi tuntutan Fall, dilansir dari dream.co.id (26/2).


Fall mengaku sudah cukup sering mengunjungi LA Fitness di Cincinnati semenjak Oktober 2013. Selepas latihan, biasanya ia melaksanakan salat di pojok ruang ganti tak lebih dari lima menit.


Salah seorang karyawan gym menghampirinya saat ia salat sendirian di ruang ganti pada Januari 2015. Merasa dihalangi melakukan ibadah, Fall kemudian menggugat gym tersebut ke pengadilan federal Ohio. Karyawan itu lalu mengancam akan menolak kedatangan Fall jika ia melakukan salat kembali di ruang ganti.


“Fall meminta pengadilan federal sebuah perintah yang memungkinkan dia bisa salat dalam ruang ganti,” lanjut gugatan itu.


Menurut informasi, Fall merupakan pebasket kelahiran Senegal. Pada tahun1999, saat ia berusia 12 tahun, ia berimigrasi ke Amerika Serikat. Fall merupakan seorang yang dibesarkan dalam keluarga Muslim. [dakwahmedia.com]


Sumber: news.fimadani.com






from Dakwah Media http://ift.tt/1AR9CPK

via IFTTT
[Read more]

Subhanallah, Hafidzah Balita Meninggal Saat Muraja’ah An-Naba

Posted On // Leave a Comment

“Hafidzah Balita Meninggal Saat Muraja’ah An-Naba”


Tadi Malam


Sarah Haya Nada ‘Ul Matin, balita usia 3,5 tahun tiba-tiba kejang saat sedang ngaji dan setor hapalan Quran di depan ummi dan abahnya. Badan dan lidahnya membiru serta muntah busa. Segera saja anak pasangan Agus Jamaluddin dan Bunda Dhimasy ini dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan. Hingga tiga hari kondisinya belum membaik.



Sarah dinyatakan terkena kerusakan selaput otak dan lambungnya mengalami pendarahan serta mengalami demam yang sangat tinggi. Kondisi ini tiba-tiba saja datangnya karena sebelumnya Sarah adalah balita yang ceria dan lincah. Ia memang menderita demam biasa dan masih bisa bermain bersama dengan teman-temannya.


Sabtu dini hari Sarah sempat siuman dan memanggil umminya. Bahkan di tengah sakitnya pun Sarah masih melantunkan Quran surat An-Naba hingga 12 ayat. Tepat usai membaca ayat 12, Sarah berhenti karena saat itu juga napasnya berhenti. Allah memanggilnya dalam kondisi sedang menghapal Qur’an. Masya Allah, indahnya.


Kejadian itu sekitar pukul 3.10 WIB, Sarah meninggal ketika sedang mengulang hapalan Quran surat an-Naba. Anak sekecil itu sudah begitu mencintai Quran. Sarah ini adalah adik dari kembar tiga yaitu Abdul Hannan Jamaluddin, Abdul Mannan Jamaluddin, Abdul Ihsan Jamaluddin yang juga hafidz Quran.


Allah begitu mencintai Sarah sehingga tak dibiarkan terlalu lama menanggung rasa sakit itu. Betapa bahagianya yang menjadi orang tua dari hafidzah kecil beserta saudara-saudaranya. Karena saat ini, Sarah sedang menunggu mereka di surga, insya Allah.


Bila Sarah kecil saja meninggal dengan begitu indah dalam menjaga kalam Allah, lalu bagaimana kita nanti ketika dipanggil menghadapNya? Masya Allah, semoga khusnul khatimah menjadi akhir perjalanan hidup orang-orang mukmin. Wallahu alam. [dakwahmedia.com]







from Dakwah Media http://ift.tt/1C3Sppg

via IFTTT
[Read more]

BEDA JILBAB DAN KHIMAR

Posted On // Leave a Comment

DALIL KEWAJIBAN KHIMAR DAN JILBAB PADA PEREMPUAN


Dalam konteks “menutup aurat” (satru al-‘aurat), syariat Islam tidak mensyaratkan bentuk pakaian tertentu, atau bahan tertentu untuk dijadikan sebagai penutup aurat. Syariat hanya mensyaratkan agar sesuatu yang dijadikan penutup aurat, harus mampu menutupi warna kulit. Oleh karena itu, seorang wanita Muslim boleh saja mengenakan pakaian dengan model apapun, semampang bisa menutupi auratnya secara sempurna. Hanya saja, ketika ia hendak keluar dari rumah, ia tidak boleh pergi dengan pakaian sembarang, walaupun pakaian itu bisa menutupi auratnya dengan sempurna. Akan tetapi, ia wajib mengenakan khimar (kerudung) dan jilbab yang dikenakan di atas pakaian biasanya. Sebab, syariat telah menetapkan jilbab dan khimar sebagai busana Islamiy yang wajib dikenakan seorang wanita Muslim ketika berada di luar rumah, atau berada di kehidupan umum.



Walhasil, walaupun seorang wanita telah menutup auratnya, yakni menutup seluruh tubuhnya, kecuali muka dan kedua telapak tangan, ia tetap tidak boleh keluar keluar dari rumah sebelum mengenakan khimar dan jilbab.


### Perintah Mengenakan Khimar ###

/////////////////////////////////////////////////////////////


Pakaian yang telah ditetapkan oleh syariat Islam bagi wanita ketika ia keluar di kehidupan umum adalah khimar dan jilbab. Dalil yang menunjukkan perintah ini adalah firman Allah swt;


“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya..”[al-Nuur:31]


Ayat ini berisi perintah dari Allah swt agar wanita mengenakan khimar (kerudung), yang bisa menutup kepala, leher, dan dada.

Imam Ibnu Mandzur di dalam kitab Lisaan al-‘Arab menuturkan; al-khimaar li al-mar`ah : al-nashiif (khimar bagi perempuan adalah al-nashiif (penutup kepala). Ada pula yang menyatakan; khimaar adalah kain penutup yang digunakan wanita untuk menutup kepalanya. Bentuk pluralnya adalah akhmirah, khumr atau khumur.


Khimar (kerudung) adalah ghitha’ al-ra’si ‘ala shudur (penutup kepala hingga mencapai dada), agar leher dan dadanya tidak tampak.


Dalam Kitab al-Tibyaan fi Tafsiir Ghariib al-Quran dinyatakan;

“Khumurihinna, bentuk jamak (plural) dari khimaar, yang bermakna al-miqna’ (penutup kepala). Dinamakan seperti itu karena, kepala ditutup dengannya (khimar)..


Ibnu al-‘Arabiy di dalam kitab Ahkaam al-Quran menyatakan, “Jaib” adalah kerah baju, dan khimar adalah penutup kepala . Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Aisyah ra, bahwasanya ia berkata, “Semoga Allah mengasihi wanita-wanita Muhajir yang pertama. Ketika diturunkan firman Allah swt “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung mereka ke dada mereka”, mereka membelah kain selendang mereka”. Di dalam riwayat yang lain disebutkan, “Mereka membelah kain mereka, lalu berkerudung dengan kain itu, seakan-akan siapa saja yang memiliki selendang, dia akan membelahnya selendangnya, dan siapa saja yang mempunyai kain, ia akan membelah kainnya.” Ini menunjukkan, bahwa leher dan dada ditutupi dengan kain yang mereka miliki.”


Di dalam kitab Fath al-Baariy, al-Hafidz Ibnu Hajar menyatakan, “Adapun yang dimaksud dengan frase “fakhtamarna bihaa” (lalu mereka berkerudung dengan kain itu), adalah para wanita itu meletakkan kerudung di atas kepalanya, kemudian menjulurkannya dari samping kanan ke pundak kiri. Itulah yang disebut dengan taqannu’ (berkerudung). Al-Farra’ berkata,”Pada masa jahiliyyah, wanita mengulurkan kerudungnya dari belakang dan membuka bagian depannya. Setelah itu, mereka diperintahkan untuk menutupinya. Khimar (kerudung) bagi wanita mirip dengan ‘imamah (sorban) bagi laki-laki.”


Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir menyatakan;

“Khumur adalah bentuk jamak (plural) dari khimaar; yakni apa-apa yang bisa menutupi kepala. Khimaar kadang-kadang disebut oleh masyarakat dengan kerudung (al-miqaana’), Sa’id bin Jabir berkata, “wal yadlribna : walyasydadna bi khumurihinna ‘ala juyuubihinna, ya’ni ‘ala al-nahr wa al-shadr, fa laa yara syai` minhu (walyadlribna : ulurkanlah kerudung-kerudung mereka di atas kerah mereka, yakni di atas leher dan dada mereka, sehingga tidak terlihat apapun darinya).


Imam Syaukaniy dalam Fath al-Qadiir, berkata;

“Khumur adalah bentuk plural dari khimar; yakni apa-apa yang digunakan penutup kepala oleh seorang wanita..al-Juyuub adalah bentuk jamak dari jaib yang bermakna al-qath’u min dur’u wa al-qamiish (kerah baju)..Para ahli tafsir mengatakan; dahulu, wanita-wanita jahiliyyah menutupkan kerudungnya ke belakang, sedangkan kerah baju mereka bagian depan terlalu lebar (luas), hingga akhirnya, leher dan kalung mereka terlihat. Setelah itu, mereka diperintahkan untuk mengulurkan kain kerudung mereka di atas dada mereka untuk menutup apa yang selama ini tampak”.


Dalam kitab Zaad al-Masiir, dituturkan;


“Khumur adalah bentuk jamak dari khimar, yakni maa tughthiy bihi al-mar`atu ra`sahaa (apa-apa yang digunakan wanita untuk menutupi kepalanya). Makna ayat ini (al-Nuur:31) adalah hendaknya para wanita itu menjulurkan kerudungnya (al-miqna’) di atas dada mereka; yang dengan itu, mereka bisa menutupi rambut, anting-anting, dan leher mereka.”[12]


Perintah Mengenakan Jilbab


Adapun kewajiban mengenakan jilbab bagi wanita Mukminat dijelaskan di dalam surat al-Ahzab ayat 59. Allah swt berfirman :


“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang”.[al-Ahzab:59]


Ayat ini merupakan perintah yang sangat jelas kepada wanita-wanita Mukminat untuk mengenakan jilbab. Adapun yang dimaksud dengan jilbab adalah milhafah (baju kurung) dan mula’ah (kain panjang yang tidak berjahit). Di dalam kamus al-Muhith dinyatakan, bahwa jilbab itu seperti sirdaab (terowongan) atau sinmaar (lorong), yakni baju atau pakaian longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain apa saja yang dapat menutup pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung.”[Kamus al-Muhith]. Sedangkan dalam kamus al-Shahhah, al-Jauhari mengatakan, “jilbab adalah kain panjang dan longgar (milhafah) yang sering disebut dengan mula’ah (baju kurung).”[Kamus al-Shahhah, al-Jauhariy]


Di dalam kamus Lisaan al-‘Arab dituturkan; al-jilbab ; al-qamish (baju); wa al-jilbaab tsaub awsaa’ min al-khimaar duuna ridaa’ tughthi bihi al-mar`ah ra’sahaa wa shadrahaa (baju yang lebih luas daripada khimar, namun berbeda dengan ridaa’, yang dikenakan wanita untuk menutupi kepala dan dadanya.” Ada pula yang mengatakan al-jilbaab: tsaub al-waasi’ duuna milhafah talbasuhaa al-mar`ah (pakaian luas yang berbeda dengan baju kurung, yang dikenakan wanita). Ada pula yang menyatakan; al-jilbaab : al-milhafah (baju kurung).


Al-Zamakhsyariy, dalam tafsir al-Kasysyaf menyatakan, “Jilbab adalah pakaian luas, dan lebih luas daripada kerudung, namun lebih sempit daripada rida’ (juba).


Imam Qurthubiy di dalam Tafsir Qurthubiy menyatakan, “Jilbaab adalah tsaub al-akbar min al-khimaar (pakaian yang lebih besar daripada kerudung). Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Mas’ud, jilbaab adalah ridaa’ (jubah atau mantel). Ada pula yang menyatakan ia adalah al-qanaa’ (kerudung). Yang benar, jilbab adalah tsaub yasturu jamii’ al-badan (pakaian yang menutupi seluruh badan). Di dalam shahih Muslim diriwayatkan sebuah hadits dari Ummu ‘Athiyyah, bahwasanya ia berkata, “Ya Rasulullah , salah seorang wanita diantara kami tidak memiliki jilbab. Nabi menjawab,”Hendaknya, saudaranya meminjamkan jilbab untuknya”.


Dalam Tafsir Ibnu Katsir, Imam Ibnu Katsir menyatakan, “al-jilbaab huwa al-ridaa` fauq al-khimaar (jubah yang dikenakan di atas kerudung). Ibnu Mas’ud, ‘Ubaidah, Qatadah, al-Hasan al-Bashriy, Sa’id bin Jabiir, Ibrahim al-Nakha’iy, ‘Atha’ al-Khuraasaniy, dan lain-lain, berpendapat bahwa jilbab itu kedudukannya sama dengan (al-izaar) sarung pada saat ini. Al-Jauhariy berkata, “al-Jilbaab; al-Milhafah (baju kurung).”


Imam Syaukani, dalam Tafsir Fathu al-Qadiir, mengatakan;

“Al-jilbaab wa huwa al-tsaub al-akbar min al-khimaar (pakaian yang lebih besar dibandingkan kerudung). Al-Jauhari berkata, “al-Jilbaab; al-milhafah (baju kurung). Ada yang menyatakan al-qanaa’ (kerudung), ada pula yang menyatakan tsaub yasturu jamii’ al-badan al-mar`ah.”[17]


Al-Hafidz al-Suyuthiy dalam Tafsir Jalalain berkata;

” Jilbaab adalah al-mulaa`ah (kain panjang yang tak berjahit) yang digunakan selimut oleh wanita, yakni, sebagiannya diulurkan di atas wajahnya, jika seorang wanita hendak keluar untuk suatu keperluan, hingga tinggal satu mata saja yang tampak”. [dakwahmedia.com]


Sumber: FB-Medan Dakwah News







from Dakwah Media http://ift.tt/1wpRQiv

via IFTTT
[Read more]

Obama Kumpulkan 60 Negara di Washington Untuk Belajar Perang Pemikiran Melawan Islam

Posted On // Leave a Comment

Presiden AS, Barack Obama, dalam konferensi yang digelar di ibukota Amerika, Washington, mendesak untuk membahas cara-cara mengatasi fenomena ekstremisme. Obama meminta para pemimpin negara-negara Barat dan negara-negara Islam untuk bersatu guna mengalahkan “janji-janji palsu ekstremisme”, dan menolak gagasan yang mengatakan bahwa kelompok teroris mewakili Islam.


Presiden AS mengatakan kepada para peserta konferensi yang mewakili 60 negara, “Para teroris tidak berbicara dengan bahasa satu miliar Muslim…Kita tidak sedang berperang dengan Islam.”


Obama mengatakan kepada para peserta konferensi yang berlangsung tiga hari, bahwa perang melawan ekstremisme tidak dapat dimenangkan oleh kekuatan militer saja, namun komunitas Muslim harus memainkan perannya juga. Obama meminta komunitas Muslim di Amerika Serikat untuk berbuat lebih banyak dalam menghadapi apa yang disebut dengan “ekstremisme dan kekerasan”.


Hal ini jelas bahwa dimensi konferensi ini, dengan 60 negara bertemu di bawah naungan Amerika Serikat selama tiga hari, ini jauh melampaui aksi militer, yang oleh Obama disebut kekuatan bersenjata; juga jauh melampaui dimensi para penguasa Arab, kaum Muslim hingga komunitas Muslim dan aksi masa.


Semua ini disebabkan oleh kesadaran Amerika terhadap hakikat tantangan yang tengah dihadapi Barat dan peradabannya. Jelas mereka menyadari bahwa tantangan budaya adalah yang paling menonjol dan berbahaya bagi mereka, terutama karena mereka melihat terpuruknya dan runtuhnya peradaban Barat dari hari ke hari, setelah tampak kerusakannya, dan dunia terbakar oleh apinya; juga setelah faktanya terungkap bahkan di depan para pengikutnya, bahwa peradaban Barat adalah peradaban zalim, diktator, sombong, pembantai dan tidak manusiawi. Sebaliknya, Barat tidak melihat pada selain Islam sebagai ancam terhadap peradabannya, dan alternatif untuk dunia, sebagaimana yang mereka lihat munculnya mobilitas kuat yang menggoncang dunia Muslim, serta di tengah-tengah komunitas Muslim di Barat, saat mereka tengah berfikir tentang Islam sebagai peradaban alternatif.


Jadi, ketika Obama berbicara dan mengatakan, “Perang melawan ekstremisme tidak dapat dimenangkan oleh kekuatan militer saja,” sudah tidak ada cara lain, selain perang ideologi pemikiran. Perang ini tidak dapat dikalahkan oleh militer dan aliansi Salibis, sebab peralatan perang ini berbeda dari peralatan perang militer.


Jadi, hal pertama yang ingin dilakukan Obama dan Barat adalah menyesatkan umat Islam, umat dua miliar, saat Obama sengaja salah dalam menyebutkan jumlahnya, dengan mengatakan “satu miliar Muslim”. Dengan pengaburan ini, Obama ingin menegaskan bahwa perang ideologi ini tidak untuk melawan mereka, melainkan untuk kelompok ekstremis yang jumlahnya sedikit dibandingkan dengan seluruh kaum Muslim. Dengan begitu, mungkin bagi Obama untuk menyerang setiap peradaban Islam yang tidak sejalan dengan Barat, dan mengancam peradaban Barat, dengan memanfaatkan kelompok kecil tersebut, serta berdalih bahwa itu tidak dimaksudkan untuk Islam atau kaum Muslim.


Itu adalah politik belah bambu lama yang diperbarui. Ini digunakan Barat terhadap bangunan tinggi Islam karena mereka tahu bahwa Islam tidak mungkin disatukan atau dibentuk suatu masyarakat yang tunduk pada ideologinya yang busuk dan rusak.


Obama menyadari betapa besarnya tantangan yang dihadapi masyarakatnya melalui komunitas Muslim yang sedang merapat ke lubang Islam, dari hari ke hari. Barat ketakutan bahwa itu akan menjadi bom waktu di dalam rumahnya. Oleh karena itu, ia ingin fokus pada netralisasi konflik. Hal ini dilakukan, jika semua tidak dapat digunakan dalam perang melawan generasi umat Islam.


Tentu saja, melalui kebangkrutan pemikiran Barat, ia tidak mampu untuk memasarkan pemikirannya, seperti ketika ia menguasai dunia. Karena itu tidak ada cara lain di depannya selain menyerang peradaban Islam melalui pendistorsian dan penyesatan terhadap setiap dimensi diskusi peradaban, dan konfrontasi pemikiran.


Dengan demikian, umat Islam sedang dalam perang pendistorsian pemikiran. Dalam hal ini, Barat mungkin akan menggunakan cara-cara lama atau baru yang bisa dilakukan. Tujuannya adalah mencegah umat Islam dari mengembalikan kemuliaan dan kebangkitannya di bawah naungan Khilafah ar-Rasyidahala minhajin-nubuwah yang dijanjikan Allah. Akan tetapi, dengan dedikasi sekelompok orang-orangmukhlis yang berjuang siang malam demi agama ini, dan dengan pembelaan serta pertolongan Allah kepada para kekasihnya, maka upaya-upaya Barat dan rencana-rencananya akan berujung pada kegagalan dan kehancuran, dengan izin Allah.


﴿إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ﴾


Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat) (QS Ghāfir [40] : 51). [dakwahmedia.com]


Sumber: pal-tahrir.info, 21/2/2015






from Dakwah Media http://ift.tt/1DgtPNm

via IFTTT
[Read more]

Soal-Jawab: PEMANFAATAN KULIT BABI

Posted On // Leave a Comment

Oleh: K.H. Hafidz Abdurrahman


1- Tentang status kulit babi, maka statusnya sama dengan kulit anjing. Kulitnya termasuk najis, baik ketika hidup maupun sudah mati. Status kulit yang asalnya najis, berbeda dengan kulit hewan yang asalnya suci. Seperti kulit sapi, kambing atau yang lain. Kalau hewan yang terakhir ini mati, atau menjadi bangkai, yang hukumnya najis, tetapi ketika disamak, kulit bangkai sapi, kambing atau hewan yang asalnya suci, bisa kembali suci. Tapi, jika hewan tersebut asalnya najis dan haram, seperti babi dan anjing, maka sekalipun kulitnya disamak, tetap saja tidak mengubah statusnya menjadi suci, atau halal. Karena itu, hukum menggunakannya sebagai tas, sepatu atau ikat pinggang tetap najis. Kalau dipakai shalat jelas tidak sah. Sebagai najis, ketika kita memakainya keringatan, maka najis kulit babi atau anjing tersebut bisa menempel ke pakaian kita, atau kulit kita, dan itu berarti pakaian atau kulit kita terkena najis mughalladhah, yang kalau membersihkan harus 7 kali basuhan, sekali dengan menggunakan pasir/debu.


2- Status babi itu haram dan najis telah dijelaskan dalam al-Qur’an. Allah SWT. berfirman:


قُلْ لاَ أَجِدُ فِي مَا أُوْحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلاَّ أَنْ يَكُوْنَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوْحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيْرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ


“Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, darah yan mengalir, atau daging babi. Karena sesungguhnya semuanya itu najis.” [Q.s. al-An’am: 145]


Q.s. al-An’am 145 di atas dengan jelas menegaskan keharaman bangkai, darah yang mengalir dan daging babi. Selain menegaskan keharamannya, ayat ini juga menegaskan kenajisan ketiganya. Karena itu, dari ayat ini bisa ditarik kesimpulkan, bahwa bangkai, darah yang mengalir dan daging babi hukum haram, sekaligus najis.


3- Bangkai, darah dan daging babi di atas bersifat umum. Dari sana kemudian ada pengecualian (takhshish), seperti mayat manusia, bangkai belalang dan ikan. Dalam hal ini, Nabi saw. bersabda:


أُحِلَّ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ، فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوْتُ وَالْجَرَّادُ


“Dihalalkan untuk kita dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai itu adalah ikan dan belalang.” [Hr. Ibn Majjah]


Sedangkan bangkai yang lain najis, berdasarkan keumuman ayat [Q.s. al-An’am: 145] di atas. Bangkai dalam pandangan fuqaha’ adalah setiap hewan yang mati tidak disembelih dengan cara yang benar menurut syariah [Prof. Dr. Rawwas Qal’ah Jie, Mu’jam Lughat al-Fuqaha’, hal. 440]. Namun, kenajisan bangkai ini dikecualikan dari bangkai hewan yang telah disamak. Karena, kenajisannya telah hilang, setelah disamak, sebagaimana hadits Nabi saw:


أَيُّمَا إِهَابٍ دُبِغَ فَقَدْ طَهَرَ


“Bangkai hewan apapun yang disamak, maka benar-benar telah menjadi suci.” [Hr. Muslim]


4- Hadits Muslim di atas menjelaskan, bahwa bangkai hewan apapun yang telah disamak statusnya menjadi suci. Ini berlaku umum meliputi semua bangkai hewan, kecuali hewan yang asalnya najis, seperti babi dan anjing, maka penyamakan bangkai babi atau anjing tetap tidak bisa mengubah status kenajisannya. Karena hukum asal babi dan anjing jelas najis. Mengenai dalil kenajisan babi telah dijelaskan dalam Q.s. al-An’am: 145 di atas. Sedangkan kenajisan anjing dinyatakan dalam hadits Nabi saw:


طُهُوْرُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيْهِ الكَلْبُ أَنْ يُغْسَلَ سَبْعًا إِحْدَاهُنَّ بِالتُّرَابِ


“Kesucian wadah [bejana] salah seorang di antara kalian, jika telah dijilat oleh anjing, maka hendaknya dibasuh sebanyak tujuh kali, salah satunya dengan debu.” [Hr. Bukhari]


5- Mengenai status kenajisan babi sudah jelas, begitu juga anjing. Cara membersihkan dari najis anjing juga telah dijelaskan dalam hadits di atas. Hadits ini memang terkait dengan najis anjing, sedangkan cara membersihkan dari najis babi, maka tatacaranya disamakan dengan anjing. Ini merupakan bentuk pengambilan hukum berdasarkan qiyas [analogi], karena adanya faktor kemiripan di antara keduanya.

6- Mengenai kenajisan benda kering ketika terkena najis, ketika najis tersebut menempel pada benda kering tersebut sudah jelas. Namun, ketika benda kering, dan najisnya kering, maka najis dan benda tersebut tidak bisa menempel, sehingga najisnya pun tidak bisa melekat, apalagi meninggalkan bekas. Sebaliknya, jika bendanya basah, najisnya kering, maka status benda kering yang asalnya suci tersebut juga bisa menjadi najis, karena najis yang kering bisa menempel pada benda yang basah. Ini berlaku dalam kasus kulit seseorang yang berkeringat ketika memegang tas kulit babi atau anjing yang kering. Tetapi, jika sama-sama kering, maka najis tersebut tidak bisa menempel, sehingga kulit orang tersebut tidak menjadi najis. Kasus yang terakhir ini tidak membutuhkan dalil, karena ini masalah pembuktian fakta (tahqiq al-manath), apakah najis tersebut bisa menempel atau tidak pada benda yang kering, atau basa? Dalilnya cukup hadits Bukhari di atas. Wallahu a’lam. [dakwahmedia.com]






from Dakwah Media http://ift.tt/1EwlKs7

via IFTTT
[Read more]

TIDAK BISAKAH UMAT ISLAM BERSATU?

Posted On // Leave a Comment

Sering ditanyakan oleh orang bahwa persatuan umat itu tidak bisa dilakukan. Sebab, kenyataannya umat sudah terpecah belah dalam banyak sekali golongan-golongan. Dan masing-masing kelompok merasa bangga dengan kelompoknya masing-masing

KOMENTAR:

Harus dibedakan antara perbedaan pendapat (ikhtilaf) dengan berpecah belah (tafarruq). Perbedaan pendapat adalah kondisi kaum muslim ketika memiliki pandangan yang berbeda dengan kaum muslim lainnya, namun tetap dalam ranah yang ditoleransi oleh Islam, yaitu pada hal-hal yang bersifat furu’ (cabang), bukan ushul (pokok). Sementara berpecah belah, hal ini telah diharamkan di dalam Islam. Allah berfirman:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…” (QS. Ali Imran: 103)

Ayat di atas jelas sekali merupakan larangan untuk berpecah belah. Lantas, apa yang bisa membedakan antara berpecah belah dengan berbeda pendapat? Kita bisa melihat pendapat Ibnu Katsir, bahwa maksud dari tali agama Allah (hablullah) adalah Al-Quran. Maksudnya adalah bahwa kaum muslim harus berpegang pada Al-Quran. Apa maksudnya? Maksudnya adalah agar kaum muslim berpegang teguh pada apa yang terkandung dalam Al-Quran, yaitu akidah dan syariah. Sebab, Islam (yang terepresentasi dari Al-Quran) itu hanya terdiri dari akidah dan syariah. Maka, akidah kita (kaum muslim) harus berangkat dari Al-Quran dan tidak boleh menyimpang darinya. Oleh karena itu, ketika Al-Quran sudah menyatakan bahwa tidak ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad saw. (lihat dalam QS. Ali Imran: 144), lalu ada orang yang menyatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi, ini bukanlah suatu bentuk ikhtilaf atau perbedaan pendapat. Ini adalah sebuah pemahaman yang menyempal (terlepas) dari Al-Quran. Jadi, dalam konteks pengakuan terhadap orang-orang Ahmadiyah, inilah yang sejatinya disebut dengan berpecah belah dalam persoalan akidah.

Selain akidah, Al-Quran juga mengandung syariah (hukum). Dalam konteks ini pun kita tidak diperkenankan oleh Allah untuk mengabaikan hukum-hukum yang terdapat dalam Al-Quran. Artinya, hukum-hukum yang terdapat dalam Al-Quran, juga harus diterapkan. Dengan mengimani dan menaati apa yang terdapat dalam Al-Quran (akidah dan syariah), itu artinya kita telah berpegang teguh pada tali agama Allah.

Dalam QS. Ali Imran: 103 di atas, Allah melarang kaum muslim untuk berpecah elah dengan kalimat wa laa tafarraquu (dan janganlah kamu bercerai berai). Menurut Ibnu Katsir, maksud dari alimat ini adalah bahwa kaum muslim harus berpegang pada Al-Jamaah. Sebab, jami’ itu merupakan lawan dari tafarruq. Jadi, larangan untuk berpecah belah itu artinya adalah larangan untuk melepaskan diri dari al-jamaah.

Apa itu al-jamaah? Al-jamaah atau jamaah kaum muslim adalah representasi dari persatuan kaum muslim. Persatuan kaum muslim ini adalah bersatunya kaum muslim dalam satu pemikiran, perasaan, dan peraturan; yang berada di sebuah tempat dan di bawah kendali seorang penguasa yang menerapkan berbagai peraturan tersebut. Itu artinya, al-jamaah adalah sebuah institusi politik. Sebab, tidak mungkin bersatunya kaum muslim dalam satu pemikiran, perasaan, dan satu hukum yang diterapkan, tanpa adanya seorang pemimpin di sana. Pemimpin yang menerapkan kekuasaan itu adalah seorang kepala negara, dan kaum muslim yang dipimpinnya itu adalah rakyat. Dengan demikian, yang dimaksud dengan al-jamaah itu adalah sebuah negara (institusi politik). Bukan sebuah perkumpulan atau organisasi massa, yang entah apalah namanya.

Al-jamaah ini telah ada, sejak berdirinya negara Islam di Madinah yang dipimpin oleh Rasulullah saw., lalu dilanjutkan oleh para Khulafaur Rasyidin, hingga khalifah-khalifah setelahnya, sampai kemudian kaum kafir berhasil menghancurkan al-jamaah tersebut pada tahun 1924 M, dan kaum muslim pun mulai ber-tafarruq (berpecah belah) dalam banyak negara kecil-kecil dan kepadanya diterapkan sebuah hukum yang bukan berasal dari Al-Quran. Inilah realitas dari perpecahan (tafarruq).

Jadi, larangan berpecah belah dalam ayat tersebut adalah larangan untuk melepaskan diri dari Al-Quran (akidah dan syariah Allah), serta larangan untuk melepaskan diri dari al-jamaah.

Lagipula, pernyataan di atas justru bertentangan dengan realitas yang ada. Tidak dipungkiri, saat ini kaum muslim begitu merindukan persatuan umat. Dari mana pun golongan/kelompoknya, dan dari mana pun dia berlatar belakang, baik dia individu maupun kumpulan dari banyak individu (jamaah). Dari yang paling “keras” pemahamannya, sampai yang liberal pemahamannya, semua merindukan persatuan umat. Semua merindukan ukhuwah Islamiyah. Hanya saja, tidak dipungkiri pula, bahwa kebanyakan dari mereka masih terlalu kabur untuk bisa menjelaskan dengan sejelas-jelasnya serinci-rincinya, tentang konsep “persatuan umat” yang diusung oleh masing-masing pihak. Masing-masing pihak memiliki pandangan atau pemahaman yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Jangankan bersatu, untuk menyatukan pemahaman tentang “persatuan umat” saja, masing-masing pihak tidak memiliki kesepakatan yang sama.

Persatuan umat ini tentu baik. Baik untuk siapa? Tidak lain adalah baik umat Islam dan kaum muslim. Dikatakan baik, karena (tentunya) dengan persatuan umat itu maka akan terwujud apa yang dicita-citakan. Indonesia mengaku merdeka dan bisa mengalahkan penjajah, karena para pejuangnya yang berasal dari berbagai daerah mau untuk bersatu. Mahasiswa, mampu menggulingkan Presiden Soeharto pada Mei 1998 dikarenakan persatuan di antara mereka, sekali pun mereka berasal dari berbagai kelompok dan golongan. Tidak heran, jika dengan persatuan umat itu, umat akan dikatakan baik dikarenakan umat menjadi kuat.

Perasaan ingin bersatu ini tentu tidak akan dibiarkan begitu saja oleh pihak Barat yang memang membenci persatuan Islam. Hal ini dikarenakan, jika umat Islam kuat maka segala kepentingan-kepentingan Barat akan diberangus. Kemudian muncullah sikap-sikap permusuhan terhadap Islam dan kaum muslim. Sikap permusuhan itu termanifestasi dalam konsep “pecah belah” atau “adu domba”, sebagaimana kita kenal “devine and rule” atau “devide et impera”. Atau dalam istilah Arab, “Farriq!! Tassud!!” (Pecah!! Perintahlah!!). Artinya, dengan memecah belah Islam dan kaum muslim, maka Barat akan mudah mengadu domba di antara umat Islam. Jika kaum muslim sudah diadu domba, itu artinya kaum muslim sudah mulai lemah. Kondisi lemahnya kaum muslim ini harus tetap dijaga, agar jangan sampai kaum muslim kembali kuat.

Maka, satu-satunya cara bagi Barat agar kaum muslim tetap lemah adalah dengan melakukan kanalisasi, yaitu membuat kondisi “seolah-olah kaum muslim bersatu”, padahal hakikatnya Barat tetap memegang kendali dan hegemoni. Kemudian dibuatlah ide persatuan (semu) itu dalam bentuk organisasi-organisasi hasil bentukan mereka. Maksudnya, organisasi-organisasi ini hanya sebatas mewakili berkumpulnya entitas kaum muslim tanpa mengusung kekuatan ideologi tertentu yang akan mengancam ideologi Barat. Contohnya adalah Liga Arab atau Organisasi Konferensi Islam (OKI). Sekalipun kelihatannya “bersatu”, tetapi hakikatnya kaum muslim tetap lemah. Ini bisa dilihat kondisi umat Islam yang ada saat ini. Sekali pun organisasi-organisasi semacam itu telah dibentuk, tetapi tetap saja kaum muslim tidak kuat. Hal ini diperparah dengan sikap kaum muslim yang cenderung pasrah terhadap pemahaman-pemahaman seperti itu, dengan berbagai alasan yang dibuat-buat.

Padahal, dulu persatuan umat atau ukhuwah Islamiyah, hanya terepresentasi dalam satu bentuk kekuatan politis, yaitu Negara Khilafah Islamiyah. Inilah yang di atas disebut dengan al-jamaah. Sekalipun terdapat berbagai penyimpangan dalam perjalanan sejarahnya, tetapi Barat sendiri telah mengakui akan kedahsyatan persatuan umat dan ukhuwah Islamiyah itu, sampai-sampai Barat begitu inginnya menghancurkan al-jamaah tersebut. Inilah hakikat persatuan umat yang hakiki, artinya bukan persatuan umat yang semu. Persatuan umat yang kuat, karena benar-benar kuat, bukan kelihatannya kuat. Persatuan itu terlihat dari berbagai entitas warga negara Khilafah yang beragam. Mereka yang ada di dalam negara Khilafah Islam itu tidak hanya berasal dari satu mazhab, tetapi dari beragam mazhab. Mereka yang ada di negara Khilafah Islam itu tidak hanya berasal dari satu suku bangsa, tetapi dari berbagai suku bangsa; ada yang berasal dari bangsa Arab, India, Parsi, Ammuria, Iraq, dan sebagainya. Mereka yang ada di negara Khilafah Islam itu bersatu padu melaksanakan hukum Allah yang mengatur hubungan antar anggota masyarakat dengan ikhlas, tanpa perasaan terpaksa. Mereka benar-benar bersatu, sehingga membentuk satu kekuatan yang ditakuti Barat, yaitu kekuatan politis. Inilah persatuan umat yang hakiki, yaitu dalam al-jamaah. Bukan persatuan semu. Kalau persatuan semu sih, mungkin Barat tidak akan begitu bernafsu untuk menghancurkan.

Lalu, bagaimana dengan perbedaan pendapat dalam kaitannya persoalan ibadah dan sejenisnya? Dalam konteks ini, selayaknya negara tidak melakukan tabanni (adopsi) terhadap hal-hal yang berkaitan dengan persoalan yang berkaitan dengan peribadatan. Sebab, hubungan manusia dengan aktivitas peribadatan adalah hubungan manusia dengan Penciptanya. Kalau sebuah negara mengadopsi (menetapkan) sebuah kebijakan yang hal tersebut berkaitan dengan urusan individu, maka akan berpotensi menimbulkan konflik horizontal.

Misalnya dalam persoalan qunut subuh. Apakah hal ini perlu ditetapkan oleh negara atau tidak, itu tidak perlu di-tabanni (diadopsi hukumnya) oleh negara. Atau, takbiratul ihram itu tangannya setinggi dada atau setinggi telinga? Ini juga tidak perlu ditabanni oleh negara. Atau, berdoa itu mengangkat tangan atau tidak, itu juga tidak perlu di-tabanni oleh negara. Oleh karena itu, tabanni (penetapan hukum) terkait soal peribadatan, selayaknya tidak dilakukan oleh negara. Negara hanya memiliki kewajiban untuk mengimbau kepada warga negaranya agar beribadah sesuai dengan tuntunan yang benar, berdasarkan dalil syara’, dan tidak membuat perkara yang tergolong bid’ah. Jika ada orang melakukan hal-hal tersebut, tentu negara akan mengambil tindakan tegas.

Namun ada perkecualian, yaitu jika peribadatan itu berkaitan dengan urusan orang banyak, nah ini yang kemudian harus di-tabanni. Misalnya dalam persoalan penetapan awal dan akhir Ramadhan. Hal seperti ini memerlukan tabanni (penetapan). Jangan sampai kaum muslim memulai dan mengakhiri Ramadhan secara berbeda.

Selain itu, persoalan tabanni (adopsi/penetapan hukum) atas suatu perkara yang termasuk ibadah, tidak relevan dengan fakta atau realitas tabanni itu sendiri. Sebab, tabanni itu hanya dilakukan pada persoalan-persoalan kaitannya dengan hubungan interaksi sesama manusia. Artinya, tabanni itu hanya bisa diberlakukan pada hal-hal yang berhubungan dengan interaksi sesama manusia, bukan yang berkaitan dengan interaksi manusia dengan Tuhannya.

Melihat kenyataan tersebut, sudah selayaknya kita berusaha keras mengembalikan persatuan umat itu dengan mengembalikan tegaknya negara Khilafah Islamiyah. Namun demikian, kaum muslim tetap harus mengawal perjalanan tegaknya hukum Islam (di bawah naungan negara Khilafah) agar tidak terjadi penyimpangan sebagaimana dulu. Insya Allah ukhuwah Islamiyah akan terwujud dalam hal-hal berikut, di antaranya: tidak akan terjadi sikap saling menjelek-jelekkan dan fitnah di antara kelompok Islam; penyimpangan dalam persoalan yang qath’i (mutlak), akan bisa dihindari (khususnya dalam persoalan akidah); tidak akan terjadi perbedaan waktu dalam mengawali Ramadhan dan Syawal, dan segala perbedaan dalam persoalan furu’ (cabang) akan bisa di-manage dengan baik, sehingga perbedaan tidak akan berbuah perpecahan. Sebab, hakikat negara khilafah adalah: tegaknya syariah dan ukhuwah.

Wallahu a’lam






from Dakwah Media http://ift.tt/1wmWkq1

via IFTTT
[Read more]

76 UU Akomodir Kepentingan Asing, Disahkan Era SBY, Dilanggengkan Era Jokowi

Posted On // Leave a Comment

Meski Indonesia sudah 65 tahun merdeka, tapi pihak asing tak henti-hentinya gencar menjajah kepentingan nasional. Salah satu modusnya adalah dengan mengintervensi pembuatan peraturan perundang-undangan.


Diungkapkan anggota DPR Eva Kusuma Sundari, setidaknya ada 76 Undang-Undang (UU) dan puluhan Rancangan Undang-Un dang (RUU) yang meng akomodir kepentingan asing.


Dia mendapatkan informasi tersebut dari hasil kajian Badan Intelijen Nasional (BIN) menengarai antara lain tiga lembaga strategis dari Amerika Serikat yaitu World Bank (Bank Dunia), International Monetary Fund (IMF), dan United States Agency for International Development (USAID) ada dibelakang semua itu.


“Ketiganya terlibat sebagai konsultan, karena memberikan pinjaman kepada pemerintah untuk sejumlah program di bidang politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan rakyat. Makanya, mereka bisa menyusupkan kepentingan asing dalam penyusunan UU di bidang-bidang tersebut,” katanya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.


Wakil Ketua Fraksi PDIP ini menjelaskan, keterlibatan Bank Dunia antara lain sebagai konsultan dalam sejumlah program pemerintah di sektor pendidikan, kesehatan, infrastruktur, pengelolaan sumber daya alam dan pembangunan berbasis masyarakat.


Menurutnya, keterlibatan Bank Dunia tersebut telah membuat pemerintah mengubah sejumlah UU. Antara lain, UU Pendidikan Nasional, UU Kesehatan, UU Ke listrikan, dan UU Sumber Daya Air.


“Konsultasi Bank Dunia melalui anak usahanya yaitu IBRD (International Bank for Re construction and Development), dan IDA (International Development Association) menyusup ke UU Pendidikan melahirkan program bantuan operasional sekolah (BOS). Begitu juga dengan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM),” paparnya.


Menurut Eva, dalam UU Sumber Daya Air, penyusupan kepentingan asing adalah dalam bentuk pemberian izin kepada pihak asing untuk menjadi operator atau pengelola. Menurutnya pemberian izin tersebut secara otomatis telah mematikan Perusa haan Daerah Air Minum (PDAM).


“Di bidang kelistrikan juga hampir sama. Pada UU Kelistrikan, Bank Dunia mengarahkan pengelolaan listrik oleh pihak swasta atau dikelola masing-masing daerah,” ungkapnya.


Selain Bank Dunia, lanjutnya, IMF juga menyusupkan kepetingannya melalui beberapa UU. Misalnya, UU BUMN, dan UU Pe nanaman Modal Asing. Menurutnya, dengan menerima bantuan IMF, secara otomatis pemerintah pasti harus mengikuti ke tentuan IMF. “Misalnya seperti privatisasi BUMN, dan membuka kesempatan penanaman modal asing di usaha strategis yang seharusnya dikuasai negara,” ucapnya.


Khusus untuk keterlibatan USAID, anak buah Megawati Soekarnoputri ini mejelaskan, bisa melihatnya diantaranya pada UU Migas (No 22 Tahun 2001), UU Pemilu (No 10 Tahun 2008), dan UU Perbankan yang kini tengah digodok pemerintah untuk direvisi.


Selama masa reformasi, kata Eva, USAID telah menjadi konsultan dan membantu pemerintah dalam bidang pendidikan pe milih, serta penyelenggaraan dan pengawasan pemilihan umum. Di sektor keuangan, UNSAID juga turut membantu usaha restrukturisasi perbankan, pengembangan perangkat ekonomi makro yang baru, serta mendorong partisipasi masyarakat dalam penentuan kebijakan ekonomi.


“Dengan keterlibatannya dalam membantu pelaksanaan pemilu dan pengembangan demokrasi, UNSAID telah menyusup kan paham liberalisme dalam mekanisme pemilihan secara langsung yang terkesan demokratis, namun ternyata rawan dengan politik uang,” ungkap Eva.


Dia menegaskan, menyusupnya kepentingan asing pada sejumlah UU telah merusak tatanan politik, ekonomi dan sosial-budaya. Meski berbeda lembaga, tapi syarat-syarat yang diajukan Bank Dunia, IMF, dan USAID secara substansi sama.


“Syaratnya, membuka pasar bebas, tidak boleh ada proteksi, pemain lokal dirugikan, free competitions dan membuat stan darisasi yang membebani petani dan rakyat kecil,” bebernya.

Masih kata Eva, sebagian besar undang-undang yang ditengarai untungkan pihak asing adalah UU hasil usulan dari pemerintah. Makanya dia sangat menyesalkan mengapa pemerintah lebih mengakomodasi kepentingan asing dalam menyusun berbagai undang-undang tersebut. “Di pe merintahan berkumpul orang-orang pinter. Mereka seharunya tahu apa yang mereka lakukan,” ungkapnya.


Meski begitu dia mengakui, pada akhirnya UU tersebut juga dibahas bersama di DPR, dan kekuatan mencegah intervensi asing itu sangat kecil, karena ke banyakan anggota Dewan yang ada saat ini adalah orang baru yang belum terlalu ber pengalaman. “Secara kapasitas, kapabilitas, belum balancing antara DPR dengan pemerintah,” kelitnya.


Kepala Hubungan Eksternal Bank Dunia Di Indonesia, Randy Salim yang dikonfirmasi soal tudingan kepentingan lembaga nya yang disusupkan di UU dan RUU, mengaku belum mengetahuinya. “Saya belum membaca datanya, sehingga saya belum bisa berkomentar,” kelitnya.


Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Abdul Hafidz Anshary mengatakan, sampai saat ini lembaganya tidak pernah melakukan diskusi terkait adanya intervensi asing terhadap UU No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, DPRD isu dengan pihak DPR. “Kita hanya pelaksana. Jadi secara lembaga kita tidak akan membahas hal itu. Tanya DPR saja,” katanya.


Kepala Hubungan Masyarakat (Humas) Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas), Elan Biantoro juga mengatakan, hal yang serupa soal dugaan intervensi asing dalam UU No. 22 Tahun 2001 tentang Migas.


Meski begitu, menurut Elan, dalam menjalankan tugasnya BP Migas selalu berusaha keras untuk mencermati kinerja para inves tor di lapangan. Berd a sarkan hasil evaluasi itulah, ke mu dian BP Migas akan mem be rikan masukan kepada Ke men terian, apakah para investor itu layak diperpanjang atau tidak.

“BIN Harus Jelaskan”


Priyo Budi Santoso, Wakil Ketua DPR

Wakil Ketua DPR RI Priyo Budi Santoso menyatakan, siap un tuk mendorong dilakukannya revisi terhadap UU yang diduga disusupi kepentingan asing hasil kajian BIN.


“Mengenai UU yang kabarnya disusupi kepentingan asing tersebut kan masih simpang siur dan merupakan isu yang katanya berasal dari BIN. Kepala BIN harus menjelaskan secara tuntas ke DPR,” katanya, kemarin.


Politisi Golkar ini menegaskan, pihaknya tidak akan segan-segan memberikan sanksi tegas bila ada anggota DPR terlibat dalam penyusupan kepentingan asing tersebut.


“Kalau ini benar dari BIN, akan sangat baik disampaikan secara resmi, supaya DPR bisa evaluasi. Tapi kalau tidak, ini akan jadi rumor yang bisa saja merugikan pemerintah dan DPR. Anggota DPR yang secara sengaja membawa kepentingan asing harus ditindak. Laporkan saja ke Badan Kehormatan DPR. Saya sendiri belum dapat laporan soal itu,” katanya.


Daftar itu ada di BIN. Saat itu, Waka BIN pernah berceramah disini. Disebutkan, ada 72 UU yang dibuat berdasarkan konsultan asing. Salah satunya UU 25/2007 tentang penanaman modal. Bagaimana mungkin mereka diberikan hak guna usaha hingga 95 tahun kemudian bisa diperpanjang di muka hinga 65 tahun dan ditambah lagi 35 tahun.


“Asing Bisa Eksploitasi Sampai 195 Tahun”

Kiki Syahnakri, Ketua Badan Pengkajian (PPAD)

Kiki Syahnakri, Ketua Ba dan Pengkajian Persatuan Pur nawirawan TNI AD (PPAD) membenarkan adanya dugaan intervensi kepentingan asing dalam RUU dan UU di Indonesia sejak empat tahun lalu.


“Terdapat 72 perundang-undangan yang baru hasil reformasi merupakan pesanan asing. Ini berdasarkan kajian BIN pada 2006 lalu. Salah satunya adalah Undang-Undang Nomor 25 Ta hun 2007 tentang Penanaman Modal Asing,” bebernya, kemarin.

Dalam UU tersebut, lanjutnya, memberikan ruang bagi perusahaan asing untuk dapat mengelola lahan selama 95 tahun. Bahkan bisa diperpanjang hingga 35 dan 65 tahun lagi. “Pengusaha asing bisa mengeksploitasi sumber daya hingga 195 tahun,” ucapnya.


UU lainnya, kata Kiki, adalah UU Tentara Nasional Indonesia. Selama ini UU itu dinilai justru mengerdilkan peran TNI di masyarakat. Padahal Indonesia memiliki potensi konflik dan potensi ancaman yang sangat besar.


Makanya Kiki menuntut le gis latif maupun eksekutif harus bertanggung jawab atas lolosnya perundang-undangan tersebut. “Tidak mungkin muncul UU itu kalau legislatif punya karakteristik kebangsaan yang tinggi,” pungkasnya.

——

Perundang-undangan tersebut diantaranya: UU BUMN (No.19 tahun 2003), UU Penanaman Modal Asing (No.25 tahun 2007), UU Migas (No.22 tahun 2001), UU Sumber Daya Air (No.7 tahun 2004), UU Perikanan (No.31 tahun 2003), UU Pendidikan Nasional (No.20 tahun 2003), UU Pelayaran (No.17 tahun 2008), UU Tenaga Kerja (No.13 tahun 2003), UU Sistem Budaya Tanaman (No. 12 tahun 1992), UU KDRT (No.23 tahun 2004), UU Kesehatan (No.23 tahun 1992), UU Kelistrikan (No.20 tahun 2002), dan masih banyak lagi.


Sumber:

http://ift.tt/1wqEWq1

http://ift.tt/IL1byX

rimanews






from Dakwah Media http://ift.tt/1BxEo3t

via IFTTT
[Read more]