Kerukunan Umat Muslim dan Hindu di Bali Kembali Terusik

Salah Satu Masjid di Singaraja Bali

Kerukunan Umat Muslim dan Hindu di Bali kembali terusik dengan ulah oknum yang tidak bisa menghargai perbedaan. Berikut beberapa pemberitaan dari ROL mengenai masalah tersebut :

Usut Provokator Ketegangan antara Umat Muslim dan Hindu di Bali

Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnain mengimbau Kepolisian Bali untuk menangkap provokator yang menyebabkan meningkatnya ketegangan antara umat Muslim dan Hindu di Bali. Menurutnya sudah ratusan tahun umat Muslim dan Hindu hidup damai di Bali.

"Anggota DPD yang satu itu memang sudah Islamophobia, dia harusnya tidak lolos jadi DPD karena tidak mengerti wawasan nusantara," ujar dia Republika.co.id, Senin (7/12).

Tengku Zulkarnain sangat menyayangkan apalagi jika betul terbukti aksi pengrusakan masjid dilakukan oleh anak buah perwakilan DPD Bali I gusti Ngurah Arya Wedakarna. "Ini jelas akan memecah belah Indonesia. Dia tidak paham konsep NKRI dan Bali bukan daerah khusus," ujarnya. 

Dia mengatakan, selama ini Islam juga menghormati umat Hindu dengan ikut memadamkan listrik dan tidak memakai kendaraan bermotor saat Hari Raya Nyepi. Bahkan untuk shalat pun mereka tidak menggunakan pengeras suara. 

Perwakilan Ulama Bali akan Laporkan Wedakarna

Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) asal Bali Kadek Kim Alan Moestaqiem Dahlan al Bali mengatakan akan mengumpulkan bukti-bukti atas tindakan pengrusakan dua masjid di Jimbaran dan Nusa Dua, Bali. Pihaknya akan melaporkan ke Mabes Polri dan MKD karena ini menurutnya ini ulah anak buah I Gusti ngurah Arya Wedakarna. 

"Kami sedang berkonsolidasi dengan ulama-ulama Bali yang berada di Surabaya, Jogjakarta, dan Jakarta untuk melaporkan Wedakarna kepada Kepolisian dan MKD," ujar dia kepada Republika.co.id, Senin (7/12).

Menurutnya, tindakan pengrusakan ini bukan hanya masalah di Bali, tetapi sudah menyangkut umat Muslim secara keseluruhan. Dia mengatakan, umat Muslim di Bali sudah resah karena merasa terganggu.

Namun saat ini pihaknya telah meminta umat Muslim Bali untuk bersikap tenang dan tidak bertindak reaktif. Sudah seharusnya tindakan Islamophobia ditanggapi dengan kepala dingin tetapi tak hanya tinggal diam saja. 

Sebelumnya sebanyak 10 hingga 30 orang memasuki dua masjid di Jimbaran pukul 03.00 WITA. Mereka memecahkan kaca, menginjak-injak karpet dan melemparkan kotak.

Penyerangan Masjid di Bali Karena Pencurian Kotak Amal

Penyerangan terhadap Masjid Jami Abdurrahman bin Auf di Kelurahan Jimbaran, Kuta Selatan, Kabupaten Badung, dilakukan sekelompok orang tak dikenal. Ketua Takmir Masjid milik Yayasan Baitul Ummah itu, Muhammad Fauzi mengatakan mereka hanya melakukan pencurian kotak amal. "Sementara ini, mereka hanya melakukan pencurian kotak amal. Selanjutnya saya meminta agar aparat kepolisian mengusut tuntas kasus ini. Biar perkembangan dari kepolisian yang menyimpulkan motif asli dari pelaku," kata Muhammad Fauzi saat dihubungi Republika.co.id, Senin (7/12).

Fauzi yang juga sebagai Ketua Yayasan Baitul Ummah mengatakan penyerangan ke masjid bukan karena penistaan agama. Dia pun menekankan agar isu tersebut tidak dibesar-besarkan karena mereka hanya melakukan pencurian kotak amal.

Pencurian kotak amal di masjid tersebut terjadi Sabtu (5/12) lalu. Dia menceritakan, saat itu, Kadir, penjaga masjid sekaligus sebagai marbot bangun sekitar pukul 03.00 WITA dini hari. Dia hendak melakukan shalat Tahajud. 

Ketika hendak berwudhu, Kadir melihat seseorang berdiri di luar pagar dan orang itu juga melihat Kadir. Lalu orang yang berada di luar pagar masjid melempar Kadir dengan batu. 

Selanjutnya, Fauzi menjelaskan, Kadir melempar dengan batako sisa bangunan yang ada di area parkir masjid dengan maksud membela diri. Naas karena ternyata orang tidak dikenal tersebut tidak sendirian. Di belakangnya ada sekitar 10 orang lagi. Akhirnya mereka sempat saling lempar. 

Namun karena tidak imbang, Kadir lari ke kamarnya dan tidak keluar lagi sampai waktu Subuh tiba. Sedangkan kamar Kadir berada di ruang pojok area masjid.

Fauzi menceritakan kawanan pencuri tersebut memasuki area masjid melalui pintu gerbang dan meloncat pagar masjid. Mereka leluasa masuk ke masjid hingga ke ruang jama'ah. Kebetulan di dalam masjid terdapat dua orang jamaah yang sedang i'tikaf, yaitu Edy dan Joe.

Melihat sekawan orang tidak dikenal masuk masjid, Edy lari ke kamar mandi dan Joe bersembunyi di ruang masjid lantai atas. Fauzi mengatakan, di antara kawanan pencuri ada yang mengatakan "angkat itu". Maksudnya kotak amal setinggi satu meter. Kotak amal itu pun kemudian dibawa kabur oleh mereka. "Edy dan Joe mendengar percakapan para pencuri kotak amal tersebut," ujar Fauzi. [OD]

Sumber : 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kerukunan Umat Muslim dan Hindu di Bali Kembali Terusik"

Poskan Komentar