Minggu, 18 Februari 2018

Pengertian Syiah


Syiah secara etimologis berarti “pengikut”, “pendukung”, atau “kelompok”, Sedangkan secara terminologis istilah ini dikaitkan dengan sebagian kaum muslim yang dalam bidang spiritual dan keagamaan merujuk pada keturunan nabi Muhammad SAW (ahlul bait). Sedangkan menurut Ahmad al-Waili adalah : Syiah menurut bahasa ialah pengikut atau pembantu. Menurut Abd al-Qadir Syaib al- Hamdi  Guru  Besar  Universitas  Islam  di  Madinah  menyatakan:  “Syiah  dalam percakapan orang Arab berarti pengikut atau pembantu”

Menurut ath-Thabathaba’i (1903-1981 M) istilah Syiah untuk pertama kalinya ditujukan kepada para pengikut ‘Ali (Syiah ‘Ali), pemimpin pertama ahlul bait pada masa nabi Muhammad SAW. Para pengikut ‘Ali yang disebut Syiah, diantaranya adalah Abu Dzar al-Ghifari, Miqdar bin al-Aswad, dan Ammar bin Yasir.

Jadi pengertian etimologis dan terminologis diatas boleh dikatakan hanya merupakan dasar yang membedakan Syiah dengan kelompok islam lainnya. Meskipun demikian pengertian tersebut menjadi titik tolak penting bagi madzhab syiah dalam mengembangkan dan membangun doktrin-doktrinnya yang meliputi segala aspek kehidupan, seperti imamah, taqiyyah, mut’ah dsb.

Sejarah Kemunculan Syiah

Penganut aliran Syiah dan juga sekian pakar dari Ahlussunnah berpendapat bahwa benih Syiah muncul sejak masa Nabi Muhammad SAW, atau paling tidak secara politis benihnya muncul saat wafatnya Nabi Muhammad SAW (pada saat pembaiatan   Sayyidina  Abu   Bakar   di  Tsaqifah).   Ketika   itu   keluarga   Nabi Muhammad SAW dan sejumlah sahabat memandang bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra lebih berhak dan lebih wajar menjadi khalifah Nabi Muhammad SAW dari pada Sayyidina Abu Bakar ra. Pendapat tentang benih lahirnya Syiah seperti ini, antara lain dikemukakan oleh Ibnu Khaldun dalam Tarikh-nya, dan beberapa orientalis, seperti Goldziher dan juga pemikir kontemporer lain.

Sedangkan dalam  data sejarah, para ahlipun berbeda pendapat. Menurut Abu Zahrah, Syiah mulai muncul ke permukaan pada masa akhir pemerintahan Usman bi Affan. Selanjutnya, aliran ini tumbuh dan berkembang pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib.  Watt menyatakan bahwa Syiah muncul ketika berlangsungnya  peperangan  antara Ali  bin  Abi  Thalib  dan  Mu’awwiyah  yang dikenal dengan perang Shiffin. Dalam peperangan ini, sebagai respons atas penerimaan Ali terhadap arbitrase yang ditawarkan oleh Mu’awwiyah, pasukan Ali terpecah menjadi dua, yaitu kelompok yang mendukung Ali (Syiah) dan kelompok yang menolak sikap Ali yang disebut Khawarij.

Berbeda dengan pendapat diatas, kalangan Syiah berpendapat bahwa kemunculan   Syiah   berkaitan  dengan   masalah   pengganti   (khilafah)   Nabi Muhammad SAW. Mereka menolak kekhalifahan Abu Bakar, Umar Bin Khattab, dan Utsman Bin Affan karena dalam pandangan mereka hanya Ali bin Abi thalib yang berhak menggantikan Nabi. Ketokohan Ali dalam pandangan Syiah sejalan dengan isyarat-isyarat yang di berikan oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam masa hidupnya. Pada awal kenabian, ketika nabi Muhammad diperintahkan menyampaikan dakwah kepada kerabatnya, yang pertama-tama menerima adalah Ali bin Abi Thalib. Pada saaat itu Nabi mengatakan bahwa orang yang pertama memenuhi ajakannya akan menjadi penerus dan pewarisnya. Selain itu, sepanjang kenabian Muhammad Ali merupakan orang yang menunjukan perjuangan dan pengabdia n yang luar biasa besar. []

0 komentar

Posting Komentar